KALIANDA (lampost.co) -- Sekelompok pria, terdiri dari orang dewasa hingga paruh baya berkumpul di tengah areal persawahan Desa Bandanhurip, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, Senin (30/10/2017) siang. Mereka saling bahu-membahu mengais rezeki sebagai buruh ojek padi.
Gerakan mereka terlihat kompak. Satu per satu mereka mengisi setiap lembaran karung dengan butiran padi yang baru saja dirontokkan mesin alsintan combine harvester. Tanpa ada rasa perbedaan, mereka saling membantu.
Beberapa menit kemudian, satu dari mereka mulai menaikkan ratusan kilogram padi atau gabah kering panen ke atas sepeda yang dipergunakan untuk mengangkut. Rasa lelah dan letih dari mendorong sepeda, mereka hiraukan di saat mengais rezeki.
Salah satu dari buruh jasa ojek sepeda itu adalah Tohari warga Desa Bandanhurip, Kecamatan Palas. Ia mengaku sudah sepekan hari terakhir ia melakoni pekerjaan buruh jasa ojek padi dari sepeda.
Bapak empat anak itu terpaksa mengais rezeki dengan cara mengandalkan otot demi mencukupi kebutuhan sehari-hari. Tak banyak yang ia dapatkan dari buruh ojek padi itu. Tohari mengaku diupah berdasarkan jarak tempuh yang dilewatinya.
"Lumayanlah kalau jarak tempuh sekitar 30—50 meter diupah sebesar Rp10 ribu per angkut. Tapi, jarak tempuhnya jauh kami diupah beda lagi bisa mencapai Rp30 ribu ke atas," kata dia.
Menurutnya, dalam sehari ia hanya mampu mengumpulkan uang untuk anak dan istri berkisar Rp150 ribu—Rp200 ribu per hari. Pendapatan itu diakuinya sangat terbatas lantaran harus berbagi dengan buruh jasa ojek yang lainnya.
"Kalau musim panen, pendapatan saya bisa lebih dari Rp100 ribu per hari. Setelah musim panen selesai, enggak ada kerjaan. Ya, paling jadi buruh tani yang diupah berkisar Rp70 ribu—Rp80 ribu per hari," kata dia.
Meskipun demikian, Tohari mengaku selalu bersyukur atas rezeki yang didapatkannya selama ini. Yang terpenting, kata Tohari, keluarganya bisa ternafkahi.
"Ya, kalau dibilang kurang. Pasti kurang. Namanya kebutuhan pasti enggak ada cukupnya. Tapi, alhamdulillah saya terus bersyukur kami bisa makan dan anak bisa sekolah," ujarnya.

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR