DI tengah hiruk pikuk isu politik yang membombardir ruang publik dalam sepekan ini, ada isu mengejutkan dari dunia pendidikan. Universitas Lampung menemukan beberapa SMA/SMK/MAN yang melakukan penggelembungan nilai rapor siswa peserta seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN).

Ketua panitia penerimaan mahasiswa baru Unila, Bujang Rahman, mengungkapkan indikasi kecurangan nilai tersebut ada pada 134 calon mahasiswa dari 65 sekolah. Kecurangan dilakukan pihak sekolah saat mengisi nilai rapor yang kemudian diunggah ke pangkalan data sekolah dan siswa (PDSS) sebagai basis penerimaan SNMPTN.



Setelah pengumuman SNMPTN, tim melakukan verifikasi dengan mencocokkan data nilai rapor tersebut. Hasil verifikasi ditemukan ada perbedaan antara nilai asli dan nilai yang diunggah ke PDSS. Ada sekolah yang menambah 2 poin dari 7 menjadi 9, bahkan ada yang sampai 5 poin. Ada juga sekolah yang mendongkrak nilai rapor di hampir semua mata pelajaran untuk setiap semester.

Penggelembungan nilai rapor oleh pihak sekolah hanya metode instan untuk meningkatkan pamor sekolah tersebut. Jika sudah mendapat pamor sebagai sekolah favorit, pengelola sekolah akan memetik keuntungan pada setiap tahun pelajaran baru. Siswa lulusan SMP akan berbondong-bondong mendaftar di sekolah tersebut. Banyak siswa baru artinya bakal banyak juga uang mengalir.

Aksi tipu-tipu tersebut jelas mencoreng sekolah sebagai lembaga pendidikan formal. Dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor: 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional jelas disebutkan tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Namun faktanya, beberapa sekolah mengabaikan cita-cita besar tersebut. Tindakan penggelembungan nilai rapor bertentangan dengan pengembangan potensi peserta didik. Sebab, kelak justru akan menjerumuskan mereka jika dipaksakan kuliah di jurusan yang tidak sesuai dengan potensi diri.

Manipulasi nilai rapor juga sangat jelas bertentangan dengan semangat manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kualitas iman seperti apa yang diajarkan oleh pemalsu nilai rapor? Akhlak mulia seperti apa yang diajarkan para penipu?

Pihak Unila mengungkapkan pemalsuan nilai rapor siswa sering terjadi setiap tahun. Sanksi yang disiapkan, siswa yang sudah diterima lewat jalur SNMPTN. Namun, kemudian ditemukan ada manipulasi nilai, akan didiskualifikasi. Akhirnya, siswa juga yang menjadi korban.

Sanksi itu belum cukup. Seharusnya Unila juga mengumumkan secara terbuka kepada publik sekolah-sekolah yang sengaja memalsukan nilai rapor. Sanksi sosial itu akan lebih mengena agar masyarakat tidak sembarangan memasukkan putra-putrinya ke sekolah yang terbukti melakukan penipuan nilai rapor. Sanksi berikutnya melarang sekolah tersebut mengikuti proses SNMPTN di tahun mendatang.

Pemalsuan tersebut pun layak disebut sebagai pelanggaran hukum pidana karena siswa yang nilainya digelembungkan kelak akan menikmati subsidi pemerintah melalui anggaran pendidikan. Itu sebabnya, aparat penegak hukum sebaiknya mulai mengusut kasus pemalsuan nilai rapor tersebut. n

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR