AKIBAT ulah Donald Trump, seisi dunia marah! Tak tanggung-tanggung, Presiden Amerika Serikat (AS) itu kali ini memindahkan kantor Kedutaan Besar AS untuk Israel dari Tel Aviv ke Jerusalem. Itu artinya, AS mendukung Zionis Israel beribu kota di Jerusalem, sementara pemiliknya Palestina. Trump menyulut api. Bangsa-bangsa di dunia terbakar dibuatnya.

Gelombang protes terus bersahutan. Tidak hanya datang dari negara-negara penduduk beragama Islam, sekutu Amerika di daratan Eropa ikut menentang kebijakan Trump. Bahkan, pemimpin Katolik dunia di Roma, Paus Fransiskus, mengecamnya. Sebenarnya, apa yang dicari Trump di Jerusalem—rumah suci tiga agama (Islam, Kristen, dan Yahudi)?



Jawabnya adalah Trump ingin unjuk gigi. Dia memberi tahu kepada dunia sebagai pembela nomor wahid untuk Israel. Sebenarnya, sejak tahun 1995, Kongres AS menyetujui undang-undang yang meminta agar Gedung Putih—Pemerintah AS—memindahkan kedutaan dari Tel Aviv ke Jerusalem, serta mengakui kota tertua di dunia itu sebagai ibu kota Israel.

Kendati peraturan itu diterbitkan sejak tahun 1995, para pendahulu Trump seperti Presiden Bill Clinton, George W Bush, dan Barack Obama tidak serta-merta melaksanakan perintah kongres. Padahal, undang-undang ini mengikat Pemerintah AS. Ketiga pemimpin Negera Paman Sam itu lebih memilih perdamaian dunia dan memelihara kepentingan dalam negeri.

Trump merealisasikan janji kampanye ketika menjadi calon presiden AS. Tidak ada lagi basa-basi. Trump bagaikan raja dunia dengan segala titah. Sementara bangsa-bangsa di bumi ini mengakui keberadaan Palestina dan Israel dengan batas-batas wilayah. Itu tertuang dalam Resolusi PBB No. 242 dan 338 yang isinya mencakup kewajiban Israel meninggalkan wilayah Palestina yang direbutnya pada perang 1967.

Dalam Resolusi PBB disebutkan Jerusalem Timur adalah wilayah Palestina. Sedangkan tempat komplek suci tiga agama—Islam Yahudi, dan Kristen—masih di Jerusalem termasuk di dalamnya ada Masjid Al-Aqsa, ber-status quo demi menjaga proses perdamaian di kota suci tiga agama.

Resolusi telah diusik oleh Trump. Amerika dibelakang Israel. Asal tahu saja, Turki dan Arab Saudi menentang kebijakan Trump.
Jika dua negara besar Islam itu berada dalam genggaman Amerika, alamat akan terjadi "kiamat" karena dari dulu Jerusalem adalah milik umat Islam. Masjid Al-Aqsa adalah kiblat pertama sebelum Kakbah di Masjidil Haram, Mekah.

Di Jerusalem juga terdapat tempat suci bagi Nasrani—Bethlehem—sebuah kawasan tempat lahirnya Yesus, serta Bukit Golgota tempat Yesus disalib, dan Tembok Ratapan, tempat suci umat Yahudi. 

Jerusalem—kota peninggalan Nabi Daud dan Sulaiman—tak seindah artinya. Kota yang bearti damai dan selamat tidak henti-hentinya berkonflik. Kota suci tiga agama itu ternyata terus menumpahkan darah serta mengubur ratusan ribu nyawa umat manusia.

Kali ini, Trump menyulutnya. Untuk menghadang kepongahan Trump tadi, para pemimpin dunia berkumpul di Istanbul, Turki.

                           ***

Rabu lalu (13/12/2017), hasil pertemuan para pemimpin dunia meminta Trump mencabut keputusan Jerusalem sebagai ibu kota Israel.

Miliader ini sudah menciptakan ketidakstabilan dunia. Jadi, sangat wajar apabila anak bangsa memboikot bahkan mendesak dicabutnya izin kerajaan bisnis Trump di 25 negara termasuk di Indonesia berupa hotel di Bali dan Bogor. Memboikot produk AS dan mendemo kantor kedutaan AS di Jakarta.

Sebelum bertolak ke Turki, Presiden Joko Widodo dengan tegas dan tanpa tedeng aling-aling lagi mendesak Trump membatalkan keputusan ambisius menguasai Jerusalem. Sikap Indonesia tetap konsisten untuk terus bersama Palestina memperjuangkan kemerdekaan dan hak-hak warganya. Ingat, Palestina-lah satu-satunya negara di dunia ini yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. 

Itu mengapa para pemimpin di negeri ini terus-menerus mendengungkan perdamaian dan mendesak agar negeri Yaser Arafat itu segera merdeka. Dan, apa yang bakal terjadi apabila Trump tidak mencabut keputusannya? Dunia dihantui tumbuh suburnya radikalisme. Konflik Jerusalem itu dibaca sebagai pertarungan agama: Yahudi melawan Islam termasuk Kristen.  

Amerika sudah merusak tatanan perdamaian dunia. Bom bunuh diri tidak akan berhenti meledak di pusat-pusat keramaian di dunia. Tak dicaploknya Jerusalem saja, warga Palestina banyak yang dibunuh Israel. Apalagi sudah diduduki.

PBB melaporkan, pada 2014, lebih 1.500 warga Palestina gugur. Dan, 550 di antaranya anak-anak. Sedangkan pihak Zionis yang tewas hanya 73 orang. Itu pun serdadu, bukan penduduk sipil Israel. 

Sejak 15 abad lalu, Yahudi memang diberi kelebihan oleh Allah swt. Mereka memiliki kekuatan dibanding bangsa-bangsa lainnya. Sebagai renungan, dalam Alquran Surah Al-Baqarah Ayat 47 berbunyi, “Hai, Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingat pula) bahwa Aku telah melebihkan kamu atas segala umat.

Itu janji Allah. Lihatlah, warga Yahudi memiliki inteligensia (IQ) di atas 140. Sebut saja IQ Albert Einstein bertengger di angka 165. Dari mereka juga sebagai pengendali ekonomi dunia. Seperti Bill Gates dan George Soros yang menguasai 90 persen perekonomian.

Belum lagi cerdiknya, seorang yahudi bernama Philip Morris. Morris adalah pemilik pabrik rokok yang menguasai 70 persen pasar dunia. Tapi, Israel sendiri melarang keras merokok bagi rakyatnya. Namun, mereka membangun ratusan pabrik rokok di dunia juga di Indonesia.

Rokok sudah menjadi bagian dari kehidupan anak bangsa di negeri ini. Ngeri sekali tipu muslihat bangsa Yahudi.  ***

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR