TIONGKOK dulu dan Tiongkok sekarang jauh berbeda. Indonesia memiliki pengalaman yang kelam karena Partai Komunis Indonesia (PKI) poros Peking yang ingin menggulingkan pemerintahan. Caranya? Kudeta—menculik jenderal terbaik yang berakhir kematian di Lubang Buaya. Gerakan 30 September (G30S/PKI) menjadi lembaran hitam negeri ini.

Sejarah mencatat dampak berkiblat ke Peking—Tiongkok itulah, Indonesia terpuruk. Pembantaian terjadi hampir di seluruh Bumi Pertiwi. Akibatnya Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) menetapkan PKI sebagai partai terlarang. Semua yang berbau komunis dibuang dan dihabisi. Tokoh dan anak komunis tidak bisa hidup bebas di Bumi Pancasila ini.



Zaman sudah berubah. Tiongkok sungguh sudah berbeda.  Dahulu bangsa tertutup, kini terbuka untuk dunia luar.  Presiden Gus Dur menghapus masa kelam itu, dengan terbitnya peraturan yang mencengangkan dunia. Tiongkok bagian terpenting bagi Indonesia. Gus Dur menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) No  6/2000 pada 17 Januari 2000.

Perpres itu mencabut Inpres No  14/1967 bersifat diskriminatif bagi warga Tionghoa. Kehidupan warga bermata sipit, berkulit kuning langsat terbuka lebar.  Mereka bisa merayakan hari besar keagamaan dan kebudayaan di depan publik. Dua tahun setelah itu, Presiden Megawati mengeluarkan Keppres No  19/2002 menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional.

Tidak cukup di situ. Pada era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjabat presiden menerbitkan Keppres No  12/2014 tentang Pencabutan Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera No  SE-06/Pred.Kab/6/1967 tanggal 28 Juni 1967. Isinya? Presiden mengganti istilah China dengan Tionghoa.

Keppres yang diteken SBY pada 14 Maret 2014–menghapus istilah Tjina menjadi Tionghoa/Tiongkok. Tjina berdampak psikososial—diskriminatif dalam hubungan sosial warga pribumi dan keturunan Tionghoa. Perjalanan panjang menghapus sejarah kelam butuhkan kepiawaian dan diplomasi yang masuk akal bahwa Tiongkok sudah menjadi negara maju.

Indonesia juga ingin menjadi negara hebat dan unggul. Diskriminasi itu dihapus. Sebuah hadis juga mengingatkan umat Islam. “Tuntutlah Ilmu sampai ke negeri China." Walaupun hadis itu lemah derajatnya, akan tetapi membuktikan posisi Tiongkok sangat strategis. Mengapa negeri yang berjuluk Tirai Bambu itu dijadikan motivasi dan target menuntut ilmu.

Sejumlah alasan kuat mengapa Tiongkok diposisikan sebagai negara tujuan menuntut ilmu bagi dunia. Bahkan, jauh sebelum Islam diturunkan Allah swt., ternyata dataran Tiongkok sudah mencapai peradaban yang amat mengagumkan. Tembok raksasa yang membentang dari timur ke barat–membatasi utara dan selatan yang mempersatukan bangsa Tiongkok.

Benteng kuno yang berada di Kota Pingyao, Provinsi Shanxi. Peninggalan itu menjadi saksi sejarah bagi peradaban bangsa Tiongkok. Peninggalan itu menjadi daerah wisata. Begitu juga Guangzhou, ibu kota provinsi selatan Tiongkok menjadi pusat perdagangan dan pelabuhan tertua. Memang Tiongkok menguasai beragam khazanah kekayaan ilmu pengetahuan.

***

Dalam lawatan ke Tiongkok, pekan lalu (11—18 Agustus 2019), saya banyak belajar bagaimana Indonesia bisa sejajar dengan Tiongkok. Caranya? Kirim anak-anak bangsa belajar ke Tiongkok. Memperdalam ilmu pengetahuan tentang manufaktur, teknologi digital, dan industri pangan, serta ilmu kedokteran. Indonesia akan unggul pascakemerdekaan 74 tahun.

Dalam perjalanan dari bandara internasional di Beijing menuju ibu kota Tiongkok sudah berubah jadi jalan tol. Jalan menuju wihara/kuil kuno di kawasan Pegunungan Wu Tai Shan, dibangun konstruksi beton. Bahkan, tol menembus tiga gunung bebatuan. Jarak terowongannya lima kilometer.

Kereta api cepat, jalan tol di atas laut, pembangkit listrik tenaga angin dan tenaga surya, banyak ditemukan di kawasan industri di Tiongkok. Shanghai contohnya. Dua tahun lalu— 2017, sudah menyelesaikan tol sepanjang 137 ribu kilometer. Dan wajar apabila Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump galau melihat pesatnya kemajuan Tiongkok.

Itu akan menjadi ancaman dagang Amerika. Tiongkok akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia. Pastinya, kemajuan itu untuk melengserkan Amerika menjadi kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Di bidang kesehatan, Tiongkok terus mengembangkan ilmu ketabiban termasuk bubuk mesiu. Kehebatan dan tingginya peradaban Tiongkok sudah ada tahun 500 SM.

Dalam kunjungan pimpinan media dari Lampung ke Tiongkok terungkap bahwa masa depan dunia itu ada di Negeri Panda. Konsul Jenderal RI untuk Shanghai Deny W  Kurnia mengungkapkan selain bisnis perdagangan dan perbankan, serta jasa, Tiongkok juga memajukan dunia pendidikan.

“Di sini sudah banyak mahasiswa dari Tanah Air yang belajar teknologi manufaktur, industri pangan,” kata Deny optimistis bahwa Indonesia akan maju. Itu dibuktikan dengan ambisi Tiongkok menjadikan perguruan tinggi berkelas dunia seperti Harvard, Oxford, dan Cambridge.

Pada tahun 2050 nanti,  Tiongkok menargetkan 42 kampusnya menjadi universitas kelas dunia. Maukah anak-anak Indonesia menjadi orang hebat dan belajar di Tiongkok?  “Kita bergerak cepat untuk membuat kampus-kampus menjadi universitas kelas dunia,” kata Presiden Xi Jinping dalam suatu kesempatan.

Maksud kelas dunia adalah kampus yang masuk peringkat 200 besar dunia versi pemeringkatan Times Higher Education, QS World, atau Academic Ranking of World Universities. Untuk perbandingan saja, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), dan Universitas Gadjah Mada (UGM) berada di urutan 801 sampai  1.000.

Times Higher merilis hingga kini, baru tujuh kampus kelas dunia di Tiongkok, yakni Universitas Peking, Tsinghua, Fudan, Nanjing, Zhejiang, Shanghai Jiao Tong, dan University of Science and Technology of China.  Dan Tiongkok kini mati-matian meningkatkan mutu pendidikan agar tidak kalah dengan Amerika dan Eropa. Pendidikan yang bagus adalah kunci bagi kemajuan suatu bangsa. Tiongkok contohnya!  ***

EDITOR

Abdul Gofur

TAGS


KOMENTAR