LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 15 June
8081

Tags

LAMPUNG POST | Timbang Masak Sekolah Lima Hari
Ilustrasi full day school. kompasiana.com

Timbang Masak Sekolah Lima Hari

MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengeluarkan Peraturan No. 23/2017 tentang pemberlakuan lima hari sekolah dengan sistem full day school bagi siswa SD, SMP, dan SMA sederajat di Indonesia.
Kebijakan sekolah lima hari akan diterapkan pada tahun ajaran 2017/2018 Juli mendatang. Dengan kebijakan ini maka kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah berubah menjadi delapan jam dalam satu hari atau 40 jam dalam lima hari per pekan.
Mendikbud memiliki beberapa alasan menerapkan kebijakan yang telah diuji coba di beberapa sekolah percontohan. Kebijakan ini menyelaraskan jam kerja guru sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) yang harus bekerja delapan jam per hari.
Menteri Muhadjir pun bersikukuh kebijakan ini sesuai dengan Nawa Cita Presiden Joko Widodo. Kebijakan sekolah lima hari membuka peluang penyelenggara pendidikan lebih banyak memberi muatan pendidikan karakter kepada peserta didik di sekolah.
Meski memiliki landasan mulia. Penerapan sekolah lima hari bukan tanpa masalah dan hambatan. Memorsir para guru dan siswa untuk beraktifitas di sekolah selama delapan jam penuh tentu akan menguras stamina dan dapat mengurangi efektifitas KBM.
Kebijakan sekolah lima hari dapat berjalan ideal pada sekolah dengan infrastuktur telah memenuhi standar minimal layanan pendidikan. Namun bagi sekolah dengan sarana prasarana minus akan menjadi petaka.
Fakta yang harus menjadi perhatian pemerintah adalah jumlah sekolah rusak di Indonesia hampir 1,3 juta dengan tingkat kerusakan ringan, sedang, berat hingga rusak total. Sekolah berkategori baik, jumlahnya hanya sekitar 500 ribu sekolah.
Pemerintah pun harus berhadapan dengan kesiapan orangtua membiayai anak mereka bersekolah sehari penuh. Tambahan uang jajan dan makan siang menjadi perkara yang tidak semua orangtua dapat lakukan disaat tarif dasar listrik kian mencekik.
Kementrian terkait seharusnya bercermin dari penerapan kurikulum 2013 yang terseok-seok lantaran tidak bertemunya kondisi ideal dengan kesiapan penyelenggara di lapangan. Ketimpangan sarana dan prasarana pendidikan adalah persoalan utamanya.
Sebelum terlambat seperti halnya penerapan kurukulum 2013 yang cucuk cabut telah menelan dana tidak sedikit. Harusnya Kemendikbud menuntaskan dahulu keterpenuhan standar layanan pendidikan yang menjadi amanat UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas.
Adalah benar beberapa negara maju semisal Jepang dan Korea Selatan telah lama berhasil menerapkan full day school. Namun, Negara-negara Skandinavia pun mampu membuktikan tanpa sistem ini. Pendidikan mereka juga berkualitas terbaik dunia. n 

LAMPUNG POST

BAGIKAN

TRANSLATE

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv