TIM khusus yang dimotori Kementerian Kesehatan mulai mengkaji pemberian dua obat kanker kolorektal dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Keanggotaan tim meliputi Perhimpunan Dokter Sesialis Bedah Digensif Indonesia (Ikabdi), Perhimpunan Dokter Hematologi Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia (Perhompedin), Komnas Penyusun Formularium Nasional, dan Penilaian Teknologi Kesehatan (PTK) atau Health Technology Assessment (HTA).

Kedua obat kanker kolorektal itu ialah bevacizumab dan cetuximab yang semula akan dihentikan per 1 Maret bagi pasien program JKN. Sekretaris Jenderal Perhimpunan Dokter Sesialis Bedah Digensif Indonesia (Ikabdi) dr Hamid Rochanan SpB-KBD mengatakan pembahasan soal kedua obat itu masih terus dilakukan. Ia pun belum dapat memastikan kajian akan selesai dilakukan.



"Kamis pekan lalu dan Senin pekan depan pembahasan lagi di Kemenkes. Ini terus berjalan," ujar Hamid ketika dihubungi, Jumat (15/3/2019).

Dijelaskan Dokter Hamid, tidak semua pasien kanker kolorektal efektif diberikan terapi target seperti bevacizumab dan cetuximab. Ada pasien yang hanya membutuhkan pembedahan, namun ada yang harus diikuti dengan kemoterapi atau radiasi. Meski demikian, ia mengatakan ada kelompok pasien kanker kolorektal yang membutuhkan terapi target.

Sebagai salah satu pihak yang diminta masukan terkait pemberian bevacizumab dan cetuximab, dokter dari Ikabdi menyampaikan sejumlah pertimbangan pemberian obat terapi target meliputi stadium saat pasien datang, hasil pemeriksaan KRAS, NRAS, BRAFA untuk melihat mutasi genetik sel kanker dan lokasi tumor.

Hamid menuturkan jika hasil pemeriksaan semua metode wild type positif (normal), pasien kanker kolorektal akan diberikan cetuximab. Bila hasil pemeriksaan itu ditemukan ada genetik sel kanker yang bermutasi, pasien diberikan bevacizumab. Bevacizumab dan cetuximab merupakan obat kanker untuk terapi target bagi pasien kanker kolorektal metastatik. 
 

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR