KOTABUMI (Lampost): Tim gabungan Pemerintah Kabupaten Lampung Utara melakukan penyisiran pedagang kaki lima yang berdagang di sepanjang jalan trotoar pusat kota yang melanggar aturan, Senin (3/9/2018).

Mulai dari berjualan di pinggiran trotoar bahkan diantaranya berada di badan jalan utama Kotabumi. Seperti di sepanjang Jalan Jendral Sudirman, Bundaran Tugu Payanmas, Kotabumi Pasar menuju ke arah Kotabumi Udik. Semua diberikan tindakan, agar para pedagang tidak mengganggu pandangan serta aktivitas jalan raya karena berada di bahu jalan.



Seperti di Bundaran Tugu Payanmas, pedagang dibantu petugas, yang terdiri dari Satol PP, Dinas Perhubungan, Kecamatan Kotabumi, Kotabumi Selatan, 4 kelurahan membantu mengevakuasi dari tempat yang tidak seharusnta digunakan untuk berdagang itu.

"Ini adalah instruksi langsung bapak bupati kita Agung Ilmu Mangkunegara. Yang dibuktikan dengan adanya surat perintah tugas dari beliau, bahwasanya pada hari ini kami bersama tim akan melakukan eksekusi langsung turun ke bawah untuk menata para pedagang kaki lima yang berjualan di sepanjang jalan trotoar kabupaten," kata Plt Kasatpol PP Lampura, Doni F Fahmi disela-sela operasi penertiban PKL.

Menurut Doni, sebelumnya pihaknya telah melakukan koordinasi baik itu kepada petugas di lapangan, maupun aparat kelurahan dan kecamatan tempat berada lokasi diduga dijadikan tempat berdagang liar PKL. Selain itu juga, sebelumnya telah melakukan pendekatan secara persuasif kepada para pedagang agar tidak menggelar dagangannya ditempat yang tidak seharusnya.

"Sebelumnya kita sudah melakukan pendekatan secara persuasif kepada mereka (PKL), dan juga berkoordinasi dengan pihak terkait. Mulai dari Dinas Perhubungan, Perumahan dan Kawasan Pemukiman, lurah serta camat, " terangnya.

Berdasarkan pemantauan di lapangan, sempat terjadi sedikit cek-cok mulut antara petugas dan pedagang yang menjajakan makanan di sekitar Tugu Payanmas Kotabumi. Namun, tidak berlangsung lama, sebab, sebagian dari mereka mengaku selama ini berdagang telah menyetorkan sejumlah uang kepada oknum. Sehingga mereka berani berdagang disana, karena bila tidak ada itu tidak mungkin terjadi.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR