LIMA tahun lalu tidak terbayangkan Lampung akan dilintasi jalan tol. Kala itu, setiap kali mendengar jalan tol pikiran selalu terbang ke Pulau Jawa.

Ada terselip perasaan campur aduk antara minder, pasrah, dan mengagumi kemajuan pembangunan Pulau Jawa. Seakan memaklumi bahwa pembangunan di Jawa memang harus lebih gencar dibandingkan dengan di luar Jawa. Bahwa ketimpangan pembangunan Jawa dan luar Jawa sudah taken for granted, dari sononya memang harus begitu.



Tetapi, siapa sangka kini Lampung benar-benar dilintasi jalur tol dan sudah bisa digunakan. Untuk jalur Bakauheni—Terbanggibesar sejak akhir tahun lalu sudah bisa dilalui sementara jalur Terbanggibesar—Pematangpanggang tahun ini menyusul.

Memang realisasi pembangunan tol tidak semudah membalik telapak tangan. Ada usaha serius pemerintah daerah dalam pekerjaan paling ribet, yaitu proses pembebasan lahan. Ada masyarakat yang melepas lahan mereka untuk mendapat ganti untung. Ada kerja cerdas para insinyur dan teknisi. Dan, yang terpenting ada kemauan politik dan kebijakan anggaran dari Pemerintah Pusat.

Meskipun demikian, ada sebagian sikap skeptis masyarakat atas pembangunan jalan tol tersebut. Ya, itu sebuah kewajaran sebab kita tidak hidup di ruang hampa. Bagi kelompok yang pro, manfaat jalan tol sudah sangat sering dijelaskan para praktisi transportasi maupun akademisi.

Bagi yang kontra, memandang jalan tol tidak membawa kesejahteraan langsung terhadap masyarakat sebab rakyat tidak makan aspal. Tetapi, hidup bukan sekadar makan. Ada juga dimensi kebutuhan lain yang bergantung pada kelancaran transportasi. Dalam perspektif ekonomi, pemerintah cukup membangun infrastruktur yang lengkap dan berkualitas, selebihnya rakyat pasti bisa cari makan sendiri.

Pertanyaan berikutnya, setelah Lampung dilintasi jalur tol, selanjutnya apa? Pekerjaan paling mendesak yang harus dilakukan saat ini oleh pemerintah adalah memperbaiki seluruh ruas jalan, baik jalan negara, jalan provinsi, maupun jalan kabupaten/kota.

Situasi saat ini sangat timpang. Kita punya tol yang bagus, tetapi kondisi jalan negara di beberapa ruas sangat memprihatinkan. Itu bisa dilihat di jalur lintas timur, jalur lintas pantai timur, jalur lintas tengah, maupun jalur lintas barat. Kerusakan jalan negara di jalur lintas tengah menjadi pemicu kemacetan di gerbang tol Terbanggibesar.

Demikian pula kondisi di luar gerbang tol Kotabaru, tepatnya di Jalan Ryacudu, Bandar Lampung. Ruas jalan milik provinsi itu sempat rusak parah sebelum ditimbun pekan lalu. Kerusakan juga terjadi merata di sejumlah ruas jalan milik kabupaten yang menjadi akses pertama ke sektor pertanian rakyat.

Jika lima tahun pertama fokus pembangunan diarahkan pada jalan tol, untuk lima tahun ke depan harus bergeser pada rehabilitasi total jalan negara, jalan provinsi, dan jalan kabupaten/kota. Rakyat memang tidak makan aspal, tetapi orientasi pembangunan bukan sekadar makan.

 

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR