MASYARAKAT Bandar Lampung seperti mendapatkan euforia baru saat Kota Tapis Berseri didapuk menjadi markas klub Liga 1, Perseru Badak Lampung. Terbukti, tiga kali bermain di kandang, Stadion Sumpah Pemuda penuh sesak oleh suporter. 
 
Saya yang semenjak kecil sudah kecanduan menonton sepak bola tentu tidak mau ketinggalan momen ini. Saat melawan tim Barito Putra, saya memutuskan memesan tiket untuk menyaksikan laga tersebut. Dalam selebaran tiket digital itu, tertera kick-off dimulai pukul 15.30 WIB. Maka itu, supaya tidak terlambat, sejak pukul 15.00 saya bersama seorang teman sudah berjalan untuk menyambangi stadion di bilangan Way Halim itu. 
 
Sepeda motor kami tiba di pelataran parkir pukul 15.25. Kami lalu bergegas menuju gerbang timur untuk segera merasakan atmosfer pertandingan liga sepak bola teratas di Indonesia itu. Namun, langkah sang teman tiba-tiba ragu. Berkali-kali dia melihat jam di telepon selulernya. Kemudian, suara azan asar yang sayup-sayup berkumandang mantap menghentikan langkahnya.  
 
Dia menarik tangan saya, lalu mengajak berbalik arah menuju musala yang berada di belakang Gedung Olahraga Sumpah Pemuda. “Banyak hal yang lebih penting dari sekadar sepak bola,” ujarnya lembut. 
 
Di tempat ibadah yang baru dibangun itu, jemaah dengan jersey merah khas Badak Lampung dan jemaah aparat berseragam cokelat tampak berbaur khidmat dalam barisan saf-saf salat. Meskipun harus merelakan 15 menit pertama pertandingan tim kesayangan, saya mendapat pelajaran penting dari sang sahabat. Kewajiban kita sebagai manusia terkadang tersilap karena rasa bahagia yang berlebih, entah karena hobi, mengobrol, sedang berpelesir, asyik bekerja, dan berbagai aktivitas keduniawian yang menyenangkan lainnya. 
 
Terkadang, rasa cinta yang besar pada dunia begitu melekat, sehingga meluangkan waktu sebentar, untuk sekadar mengucap syukur kepada Dia yang telah memberi kenikmatan di dunia, terasa begitu berat. 
Untuk itu, kita harus punya kiat agar diri ini tidak terbius oleh rasa manis dunia. Salah satu cara agar saya tetap “eling” adalah berteman dengan orang saleh. 
 
Dia adalah pagar saat kita berada di tengah lingkungan yang memberi pengaruh buruk. Dia adalah alarm saat kita mulai jauh melenceng dalam berperilaku. Dia adalah teladan untuk kita dalam berakhlak mulia. Semoga dia juga mampu memberi syafaat kelak di kehidupan selanjutnya. 
 
Maka, bersyukurlah jika kita berada di sekeliling orang-orang baik yang selalu membawa kita semakin dekat pada-Nya. Pandangi wajah teduh mereka, karena mereka adalah anugerah tak terhingga yang Allah berikan kepada kita. Alhamdulillah!
 

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR