BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)— Layanan Tes Cepat Molekuler (TCM) TB saat ini baru ada di RSUD Abdul Moeloek Bandar Lampung.  Padahal, Dinas Kesehatan Provinsi Lampung telah memberikan sarana TCM ke semua kabupaten/kota di Bandar Lampung.  

Ns. Ida Rismauli Siagian, Wasor TB Provinsi Lampung, Selasa (30/4/2019), mengatakan bahwa tenaga kesehatan juga telah dilatih untuk menangani pasiesn TB, sehingga layanan TCM ia menilai bisa dilakukan di semua pusat layanan rumah sakit daerah di Lampung. Layanan TCM ini digunakan untuk pasien TB resisten obat.   
“Kita harapkan RSUD di kabupaten buka layanan (TCM),” ujarnya. 



Rismauli menilai, pasien TB penanganannya minimal 6 bulan untuk TB kategori 1, sementara pada TB ketegori 2 bisa 12 bulan, dan untuk resisten obat bisa mencapai 24 bulan.

Saat ini di puskesmas sudah ada layanan obat TBC, sementara untuk TCM masih terbatas di RSUD Abdul Moeloek.  
 
Sementara itu, Kasus penyakit atau prevalensi Tuberculosis Paru di Lampung mencapai 0,3 pada riset kesehatan dasar (riskesdas) 2018. Angka itu naik dari tahun 2013 hanya 0,1. 

Rismauli menyatakan angka prevalensi pada 2018 itu meningkat karena pada tahun tersebut pihaknya meningkatkan upaya sehingga dari target yakni 44 persen dari 2017 hanya 26%. “Artinya ada kepedulian baru separuhnya tenaga kesehatan kita tentang TBC,” ujarnya.  

Risma menjelaskan, butuh komitmen bersama untuk membantu penyembuhan penyakit pasien TB.  Ia menceritakan saat ini, penanganan kasus TB, pasein perlu meminum obat di depan petugas layanan kesehatan.  Upaya ini supaya penderita TB rutin meminum obat, sehingga tidak terjadi resisten obat.   

Pada Hari TB sedunia yang jatuh pada 24 Maret 2019, pihaknya juga telah mengunjungi pusat kegiatan kerumunan massa seperti di lapas, lembaga pemasyarakatan maupun pesantren.  Hasilnya, ia menemukan masih ada tempat-tempat tersebut yang kurang higienis, sehingga peluang terjadinya TB bisa semakin besar.  Bukan hanya TB, tapi juga penyakit lainnya. 

Selanjutnya, ia harapkan petugas kesehatan membuat kontrak bersama bagi pasien yang sudah positif TB untuk komitmen meminum obat sehingga pasien bisa sembuh. 
 
Rismauli menilai, penderita TB tak mengenal batas usia maupun status sosial warga.  Namun, Wardani peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dalam penelitinnya berjudul Social Determinants Characteristics of Tuberculosis Patients in Bandar Lampung Municipality dalam Jurnal JUKE 2014, menyatakan penderita TB di Bandar Lampung memiliki karakteristik determinan sosial yang lebih rendah dibandingkan bukan penderita TB. 

Wardani menyatakan responden pada kelompok penderita TB dan kelompok bukan penderita TB paling banyak mempunyai pendapatan per kapita sangat rendah, yaitu kurang dari Rp8.046.000 dalam 1 tahun.  

Di Kota Metro, Rachmawati (2015), peneliti Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehata melaporkan hasil peneltiannya menunjukkan bahwa pada tahun 2011-2013 ditemukan kasus tersangka TB sebanyak 3.618 dengan 598 penderita TB dan 247 kasus BTA positif.  Lalu, penderita TB paru di kota Metro hanya 2% dari penderita TB Provinsi Lampung. TB paru banyak diderita pada umur 25-54 tahun dan 67% penderita berjenis kelamin laki-laki.

BERITA LAINNYA


EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR