KALIANDA (Lampost.co)--Selama musim angkutan Lebaran 2019 di lintasan Pelabuhan Bakauheni-Merak, antrean truk barang, khususnya nonsembako menghiasi sejumlah parkiran rumah makan yang ada di sepanjang jalan lintas Sumatera Bakauheni, Lampung Selatan.

Sopir-sopir truk harus berjuang untuk sampai ke pulau Jawa, saat pengelola transportasi mengutamakan kepentingan kendaraan arus mudik dan balik Lebaran 2019,  sehingga mereka harus menginap berhari-hari agar bisa menyeberang ke Pelabuhan Merak, Banten dengan resiko kehabisan uang jalan sebelum sampai tujuan.  



Tidak sedikit dari mereka berlebaran di jalan dan kehabisan modal. Ponsel dijual atau pinjam uang jalan adalah pilihan terakhir para sopir untuk menunggu dan melanjutkan perjalanan. "Untung saja kita-kita ini  punya pengurus jasa penyeberangan di Bakauheni.  Jadi bisa utang uang jalan dulu, karena uang jalan sudah habis setelah truk gak boleh nyeberang dan larangan melintas di Jawa," ujar Solihin (39), sopir truk asal Cirebon,  Jawa Barat, di Bakauheni, Rabu (12/6/2019) lalu kepada Lampost.co. 

"Kalau sudah terbentur arus mudik maupun balik,  sopir truk seperti kami ini yang sengsara. Udah gak kumpul keluarga. Imbasnya kehabisan uang pula," imbuhnya. 
Sore itu, Solihin dan tiga rekannya sesama sopir truk, sedang berada di areal parkir Dermaga III Pelabuhan Bakauheni. Truk-truk mereka berada didepan antrean kendaraan pribadi. Namun kendaraan kendaraan pribadi diutamakan untuk masuk ke dalam kapal, sehingga penyeberangan mereka menuju Merak, Banten kembali tertunda. 

Sejenak duduk di balik kemudi mereka kembali turun dari truk. Sebagian ada yang duduk di atas bak truk. Solihin menceritakan, sejak Minggu (9/6/2019) pagi masuk areal parkir rumah makan Mini Khas jalinsum Bakauheni. Karena kepadatan arus balik di semua jalur mudik menuju pelabuhan Bakauheni. Ditambah lagi larangan truk melintas di jalan tol Jakarta menuju di pulau Jawa diperpanjang hingga Rabu (12/6/2019), lantaran arus balik kendaraan pemudik masih cukup tinggi.  Akhirnya,  ungkap Solihin, masa menginap di parkiran rumah makan yang tidak jauh dari pelabuhan Bakauheni pun diperpanjang.  

Kemudian Rabu (12/6/2019) siang mereka masuk pelabuhan, namun hingga pukul 17.00 WIB sore, truk mereka masih tertahan di areal parkir Dermaga III.

"Dari H-10 sampai H+7 setelah Lebaran, kami berangkat dari Cirebon ke Palembang.  Dari Palembang mau kirim barang ke Jawa Timur.  Namun hingga kini kami masih disini (Bakauheni). Biasanya mah bolak balik hanya sepekan lebih. Sekarang sudah tiga minggu belum juga sampai tujuan," ucapnya. 
Disinilah para sopir truk diuji kesabarannya. Moment Lebaran untuk melepas kesalahan bersama keluarga terlewatkan."Uang habis,  jauh dari keluarga dan jarang mandi menjadi makanan sehari-hari," ujarnya sembari tersenyum tipis.  
Sopir truk lainnya,  Juki (40) mengaku wakatu dan biaya pun banyak terbuang. Biaya tambahan pun harus dikeluarkan untuk makan."Ujung ujungnya kami yang sengsara," tutur Juki, sopir truk asal kota Panjang,  Bandar Lampung.

Biaya truk besar memcapai Rp2,1 juta."Bos mah mana tahu. Tahunya uang jalan cukup sampai tujuan. Kalau kita gak hemat,  ujung ujungnya jual ponsel atau pinjam uang jalan sama pengurus," pungkasnya. 

BERITA LAINNYA


EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR