KOTABUMI (Lampost) -- Meski letaknya jauh dari pusat Ibu Kota Kabupaten Lampung Utara, namun eksotika yang ada di Desa Gununggijul, Kecamatan Abung Tengah menyimpan berjuta potensi. Bilamana dikelola dengan baik akan memberikan dampak, tidak hanya bagi daerah melainkan juga masyarakatnya.

Banyak hal yang tidak ditemui ditempat lain dari daerah terpencil dan merupakan daerah perbatasan dengan segala keterbelakangannya. Yakni kearifan lokal masyarkatnya dalam menjaga harmonisasi keseimbangan dengan alam. Mereka seakan kompak untuk menjaga tanah kelahirannya agar tetap terjaga, seperti tidak melakukan pemburuan liar baik satwa ataupun hasil hutannya.



"Ini sudah dilakukan cukup lama, sehingga diera serba instan ini masih banyak ditemui siamang (monyet berbulu putih) dengan suara auman khasnya. Belum lagi burung-burungnya, yang bersiul bersautan merupakan pemandangan biasa disini. Ditambah bila kita memasukkan kaki di air sungai akan terasa di gigit dengan udang-udang-udang kecil, "kata Faiza Reza, salah seorang tokoh masyarakat sekaligus adat setempat kepada Lampung Post, Minggu (18/11/2018).

Selain itu, ada kebiasaan yang langka lainnya dalam menjaga keasrian lingkungannya unik disana. Dimana setiap bulan ada hari bebas tanpa asap, jangankan membakar sampah yang hobi merokok pun tidak dapat menyalakan puntung. Sehingga saat seseorang memasukinya, makan akan terasa sejuk dan segar udaranya.

"Ya ada beberapa pelancong yang menyampaikan kepada kami seperti itu saat mereka tiba disini. Dan bagi kami itu adalah peraturan mutlak yang mengikat bagi siapapun datang kemari, termasuk masyarakatnya tentunya sebagai motor penggerak, "terang Faiza.

Ada juga potensi alamnya yang masih tersimpan rapi ditempatnya. Seperti sumber daya air yang mengaliri setidaknya 10 desa berada dibawahnya langsung kepada masyarakatnya. Dan itu belum memberikan dampak apa-apa pada masyarakatnya karena tidak asa sentuhan dari pihak terkait.

"Ya itu cuma harapan kecil masyarakat, kalau bisa mimpi kami ini dapat terwujudnya bukan hanya sekedar angan tanpa jelas akhir ceritanya, "tambahnya.

Dan ini telah mendapatkan apresiasi dari pusat dengan penghargaan Kalpataru, meski daerah hanya terkejut mendengar kisahnya dapat sampai. Jangan ada dorongan, mengetahui saja tidak. Sangat ironis kedengarannya, tapi itulah fakta yang terjadi dilapangan.

"Kalau mimpi kami sangat banyak, mulai dari daerah tujuan Agro Wisata sampai destinasi alam liarnya dapat dimaksimalkan fungsinya. Namun lagi-lagi, karena keterbatasan sumber daya dan sarana mungkin hanya sebagai cerita pengiring anak-anak untuk tidur saja nanti, "pungkasnya.

Hal itu juga yang menjadi keprihatinan Kepala Desa Gununggijul, Feri Ferdiyansyah kepada Lampung Post belum lama ini. Feri berkeyakinan dengan sejuta potensi dimiliki itu bila dikelola secara modern dapat memberikan dampak positif bagi desa yang berpenduduk tidak lebih dari seribu jiwa itu. Akan tetapi dengan kondisi saat ini, hal itu mustahil dapat direalisasikan.

"Kalau dari pusat Kabupaten sebenarnya desa kami ini tidak jauh-jauh amat, paling tidak sampai 30 km. Tapi karena kondisi inafrastrukturnya demikian yang ada disini, mulai dari tingkat pengetahuan warga sampai dengan ekonominya pun dibawah standar. Lihat saja, disini saran pendidikan yang ada hanya sampai sekolah dasar belum lagi masih informasi jauh dari kata cukup sambungan telponsel pun sulit diakses, "terangnya.

Namun, Feri tidak lantas menyerah dengan situasi semacam itu. Dikembangkanlah ide-ide kreatif bersama masyarakatnya dalam meningkatkan taraf hidupnya. Perlahan namun pasti, ternyata saat ini telah membuahkan hasil meski tidak dalam skala besar. Seperti misalnya penangkaran lebah untuk menghasilkan madu, saat ini omset produk olahan alam oleh masyarakat disana telah mencapai Rp 60 juta sekali panen.

"Sangat disayangkan memang kalau ini tidak gali dan dimanfaatkan secara maksimal. Karena desa kami memiliki sejuta potensi yang tak dimiliki ditempat lainnya disini. Bisa dicek sendiri kok, "tambahnya.

BERITA LAINNYA


EDITOR

Firman Luqmanulhakim

TAGS


KOMENTAR