BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Kejaksaan Tinggi Lampung memastikan siap mengirim terpidana mati yang sudah berkekuatan hukum tetap (inkrach), jika sudah diminta oleh Kejagung. Hal ini diungkapkan Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati Lampung Irfan Nata Kusuma saat dikonfirmasi Jumat (13/7/2018).

"Ya kalau belum dikirim kan artinya perintah pimpinan belum ada. Karena ini masalah melibatkan banyak pihak," ujar Irfan.



Artinya, kata Irfan, pihaknya yang ada di Kejati Lampung akan siap kapan pun jika diperintah. "Kita di Lampung siap kapanpun diperintahkan pimpinan pusat (Kejaksaan Agung)," katanya.

Irfan mengatakan untuk saat ini memang ada beberapa terpidana mati yang sudah memiliki kekuatan hukum tetap, namun untuk kapan dieksekusi Kejati masih menunggu instruksi dari pimpinan. "Intinya kalau siap, kami selalu siap untuk mengeringkan mereka," katanya.

Terpidana mati yang ditangani Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung siap dieksekusi. Ketiga terpidana mati tersebut, dua di antaranya kasus narkotika dan satu kasus pembunuhan. Menurut Kejati, jadwal pelaksanaan eksekusi tinggal menunggu keputusan waktu dari Kejaksaan Agung (Kejakgung).

Putusan pidana mati tersebut telah final dan telah dinyatakan inkrach upaya hukum yang dijalani sudah tidak ada lagi. Sementara untuk delapan terpidana mati lainnya masih menunggu proses hukum yang dijalani.

Terpidana mati tersebut yakni Leong Kim Ping alias Away warga Malaysia dan Enrisal alias Buyung warga Indonesia yang dinyatakan bersalah melanggar Pasal 114 (2) jo Pasal 132 (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Kemudian, Waluyo alias Yo yang dinyatakan bersalah melanggar Pasal 365 (1) ke-1 dan 2 Ayat (3) dan (4) KUHP. "Keputusan untuk tiga terpidana ini sudah dinyatakan final atau inkrach. Untuk yang lainnya masih dalam proses upaya hukum," kata dia.

Diketahui Kejari Bandar Lampung juga mengani beberapa terpidana mati atas nama Romi Putra. Pada 2018, empat terdakwa kasus kepemilikan narkoba jenis ganja seberat 134 kg divonis mati oleh pengadilan Tanjungkarang, keempatnya yaitu Hendrik Saputra, Haryono, Satria Aji Andika dan Ridho Yudiantata, terpidana dinyatakan bersalah melanggar Pasal 114 Ayat (2) UU RI No.35 tahun 2009 tentang narkotika.

Kejari Bandar Lampung juga mengani terpidana mati kasus pembunuhan atas nama Bripka Medi Andika, medi dinyatakan bersalah melanggar Pasal 340 KUHP. Kedua terpidana mati yang ditangani Kejari Bandar Lampung ini masih upaya hukum banding.

Selain itu, Kajari Tulangbawang juga mengani perkara terpidana mati sebanyak 3 terpidana ketiganya yakni Alfian, Zulkira Alias Zul dan Muhammad Fahri Rizki Pratama, Muhammad Suseno dan Sony Ramadhan. Beberapa terpidana mati yang ditangani Kejari Tulangbawang tersebut dinyatakan bersalah melanggar Pasal 114 Ayat (2) Jo Pasal 132 Ayat (1) UU RI No 35 Tahun 2009 tentang narkotika, masih dalam upaya hukum kasasi.

Kajari Kabupaten Tanggamus, mengani 3 terpidana mati yang masih dalam tahap proses upaya hukum peninjauan kembali garasi, ketiganya yakni, Endang Waluyo, Hendro Prasetyo dan Wawan Setiawan. Ketiga terpidana ini dinyatakan bersalah melanggar pasal yang sama yaitu Pasal 340 Jo 55 (1) ke-1 KUHP dan kedua Pasal 80 (3) UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 55 (1) ke-1 KUHP.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR