BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Kepala Kejaksaan Tinggi  Lampung Susilo Yustinus meminta jajarannya memastikan setiap terpidana yang memiliki kekuatan hukum tetap harus menjalani pidana kurungan sesuai ketentuan yang berlaku.

Susilo mengatakan hal itu seusai pisah sambut di kantornya, Kamis (22/3/2018). Menurutnya, setiap terpidana yang sudah berkekuatan hukum tetap tidak ada lagi yang berkeliaran sebagai tahanan kota, bahkan setiap Kajari harus mematuhi hal tersebut.  "Ya, semua Kejari harus melakukan penahanan terhadap terpidana yang sudah berkekuatan hukum tetap, jangan ada lagi pembiaran, itu sudah menjadi kewajiban Jaksa melakukan penahanan," katanya kepada Lampost.co.



Kajati membantah jika Korps Adhyaksa yang ia pimpin takut dengan para terpidana, karena alasan itulah Kejaksaan tidak menahan terpidana atau terdakwa selama ini.  "Enggak ada yang takut kita melaksanakan Undang-undang kok," kata Susilo.

Diketahui Hampir secara keseluruhan terdakwa kasus korupsi yang ditangani Kejari Bandar Lampung, bebas berkeliaran di kota ini alias hanya sebatas tahanan kota. Berbagai alsan pun dilontarkan terkait tidak ditahannya para pencuri uang rakyat ini.

Beberapa kasus korupsi yang dibiarkan berkeliaran diantatanya, kasus korupsi pengadaan seragam siswa miskin Dinas Pendidikan Lampung yang menjerat terpidana Reza Fahlevi dan Diza Noviandi Aliad Dino.

Kedua terpidana ini telah diputus oleh Pengadilan Tingi dengan menguatkan putusan Pengadilan denag kurungan penjara selama 1 tahun dan masing masing membayar uang pengganti lebih dari Rp100 juta.

Perkara lainnya menjerat terpidana Helendra Sari, mantan Kepala Sekolah SMPN 24 Bandar Lampung, terdakwa ini berdasarkan pengajuan kasasi telah diputus selama 14 tahun atas dua kasus yakni Bantuan Siswa Miskin (BSM) dan Bantuan Oprasional Sekolah (BOS). Selain diputus masing-masing 7 tahun penjara dari dua kasus itu Helen juga diwajibkan membayar uang pengganti.

Selain Helen dua bawahnya yakni Ayu Septaria dan Eti Kurniasih juga masih bebas mesaki keduanya sudah ditetapkan sebagai tersangka dan dalam tahap mejalani proses sidang.

Perkara lainnya menjerat dua tersangka pengerjaan proyek jalan Sentot Alibasya Ruas Jalan Ki Agus Anang, Kecamatan Panjang, kedua tersangka Selamet Riadi (Kontraktor) dan Wilson (PNS) Pemkot Bandar Lampung.

Tiga terdakwa lainya yakni Hipni Idris (DPRD) Pesawan, Satria Permadi Kacab Bank Lampung, Antasari dan Stafnya bernama Hipbi. Ketiganya melakukan korupai di Bank tersebut dengan kerugian negara mencapai Rp1,3 miliar.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR