PRINGSEWU (Lampost.co) -- Menilik aktivitas harian kedua terduga teroris yang diamankan aparat kepolisian bersama Densus 88 ternyata memiliki perilaku anek. Terduga tetoris ini diamankan petugas dikediamannya di Pekon Waringinsari Barat, Kecamatan Sukoharjo, Minggu (3/6/18).

Menurut Kepala Pekon Waringinsari Barat Kecamatan Sukoharjo Woto Siswoyo, dari pengamatan keseharian kedua terduga teroris, sejak lama keduanya sudah menunjukan keanehan-keanehan dalam bermasyarakat.



Meskipun keduanya memiliki usaha berdagang, tetapi di lingkungan tempat tinggalnya kurang bersosialisasi. Kejanggalan lain yang diamati warga sekitar seperti tidak mau di undang kenduri oleh tetangganya. "Intinya tidak mau bersosialisasi dengan masyarakat sekitar," ungkap Woto.

Kemudian kehidupan keluarganya juga tertutup, bahkan anak-anaknya baik anak terduga Ujang dan maupun anak terduga Imron tidak ada yang di sekolahkan. Padahal masing-masing terduga teroris memiliki anak tiga.

"Mereka hanya bisa bermain dengan komunitasnya. Di pekon kami memang ada sekelompk warga yang memiliki paham sama dengan kedua terduga teroris, tetapi pihaknya mengaku tidak tahu persis berapa jumlahnya dan nama alirannya," kata dia.

Baca Juga:

Densus 88 Amankan Dua Terduga Teroris di Pringsewu

Woto menambahkan gaya berpakaian istri para terduga teroris memakai cadar, sementara suaminya yang sudah di amankan biasa-biasa saja, hanya celananya di atas mata kaki (cingkrang).

Keanehan lain yang sempat menjadi perbincangan warga adalah tidak mau memasang bendera merah putih saat peringatan kemerdekaan RI pada 17 Agustus.

Bahkan, kata Woto, sempat di panggil ke Kantor Pekon Waringinsari Barat dan di minta untuk pasang bendera. "Jawabnya justru aneh. Yang saya hormati hanya Allah," ungkap Woto, menirukan jawaban para terduga teroris tersebut.

Padahal, tambah Woto, pihaknya sudah menjelaskan perihal pemasangan bendera tidak ada kaitannya dengan keimanan kepada Allah. Ini hanya untuk menghormati HUT RI saja, tetapi tetap tidak mau. "Dari situlah akhirnya saya biarkan saja, rasanya kesal juga membimbing warganya yang tidak patuh dengan aturan pemerintahan," ungkapnya.

Menurut Woto, kedua terduga teroris memang bukan asli kelahiran Waringinsari Barat, tetapi kelahiran Jawa Tengah. Imron misalnya kelahiran Pati Jateng dan Ujang kelahiran Brebes. "Mereka tinggal di Waringinsari Barat sudah puluhan tahun semenjak menikah dengan orang sini," tambah Woto.

Melihat pola kehidupan kedua warganya dan indikasi terduga teroris yang di sangkakan kepada keduanya tidaklah salah. "Jadi indikasi tetoris yang disangkakan tidak keliru," kata dia.

 

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR