BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Bandar Lampung menuntut pidana penjara selama 3 tahun terhadap Yohanes Hendriyanto (42) warga Jalan Teluk Bone 2, Gang Tangkur, LK1, RT/RW 008, Kelurahan Kotakarang, Kecamatan Telukbetung Timur, Bandar Lampung. Terdakwa dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana menjualbelikan bahan peledak jenis pupuk ampo.

Di persidangan yang digelar di ruang Cakra Pengadilan Negeri Kelas 1A, Tanjungkarang, Selasa (7/8/2018), Jaksa Penuntut Umum Yanti Agustini menuturkan perbuatan terdakwa sebagaimana dalam dakwaan melakukan, yang menyuruh melakukan, turut serta melakukan perbuatan tanpa hak memasukkan ke Indonesia, membuat, menerima, mencoba memperoleh, meyerahkan, atau mencoba menyerahkan, menguasai, membawa, menyimpan, menggunkan atau mencoba mengeluarkan dari Indonesia sesuatu senjata api, amunisi atau bahan peledak.



Perbuatan terdakwa lanjut Jaksa sebagai mana diatur dalam Pasal 1 Ayat 1 Undang-undang Darurat No. 12 Tahun 1951 Jo pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP. "Menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa selama 3 tahun penjara dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan," kata Jaksa Yanti Agustini.

Perbuatan terdakwa berawal saat saksi  Mulyadi, Andrianus, Romli, Dapit, Irfan, yang secara keseluruhan sudah menjalani proses persidangan berencana hendak melaut untuk melakukan pengeboman ikan. Selanjutnya mereka sumbangan sebesar Rp250 Ribu untuk membeli bahan peledak jenis pupuk ampo.

"Beberapa orang tersebut datang kerumah terdakwa untuk meminta membelikan bahan peledak seberat 25 kg. Namun uang dikumpulkan kurang sehingga terdakwa harus disuruh untuk menambahi kekurangan tersebut, terdakwa menyanggupi dan pergi membeli bahan peledak tersebut," kata Jaksa.

Selanjutnya terdakwa menghubungi Rustam dan mengatakan ingin membeli bahan peledak, lalu keduanya bertemu disalah satu warung untuk menyerahkan uang. Keesokan harinya bahan peledak dikirim terdakwa kepada Mulyadi tanpa melalui terdakwa.

Pada saat Mulyadi bertransaksi bahan peledak dengan Rustam keduanya ditangkap bersama rekan terdakwa lainya. Sementara terdakwa melarikan diri ke Flores dan Kebingungan, Banten. " Di Banten terdakwa ditemui Kacung (Rian) yang hendak membeli bahan peledak, terdakwa kemudian menghubungi Mujahidin di Indramayu memesan bahan peledak tersebut," kata Jaksa.

Jual beli bahan peledak mulai sering dilakukan terdakwa dengan Mujahidin melalui paket pengiriman mobil. Bahan peledak yang terdakwa beli dari Indramayu kemudian dikirim ke Lampung (Rajabasa) atas pesanan Kacung alias Rian.

"Pada 27 Januari 2018 anggota polisi mendapat informasi bahwa terdakwa Yohanes telah kembali ke Lampung dari pelarian yang dilakukanya selama ini. Saat itu anggota melakukan pengkapan," kata Jaksa.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR