KALIANDA (Lampost.co) -- Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan mengimbau tanaman padi petani yang dilanda kekeringan dengan usia tanam dibawah satu bulan masih bisa mendapatkan uang ganti rugi dari Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dalam satu kali musim tanam dengan nilai pertanggungan sebesar Rp6 juta per hektare.

“Kalau tanaman padi diatas satu bulan sudah tidak bisa daftar AUTP. Untuk itu, kami minta tanaman padi yang terancam gagal panen dengan usia tanam dibawah satu bulan segera mendaftar melalui masing-masing kelompok tani,” kata Kepala Balai Penyuluh Pertanian kecamatan Ketapang, Lampung Selatan Herlan melalui pesan WhatsAppnya kepada Lampost.co, Minggu (5/8/2018)



Ia menjelaskan setidaknya lahan tanaman padi pada musim gadu tahun 2018  di kecamatan Ketapang mencapai 2.600 hektare. Namun, baru sekitar seratusan hektare tanaman padi yang mendaftarkan ke AUTP.

“Besaran premi yang harus dibayar oleh petani yang mendaftar ke AUTP cukup murah, yakni Rp36.000 per hektare dalam satu kali musim tanam dengan nilai pertanggungan bila terjadi gagal panen senilai Rp6 juta,” ujarnya.

Menurut dia, biaya asuransi menjadi murah karena pemerintah mensubsidi premi sebesar 144.000 dari total premi yang harus dibayar sebesar Rp180.000 per hektare dalam satu kali musim tanam.

“Bila tanamannya sukses atau tanaman padi yang mengalami gagal panen dibawah 75% maka uang premi hangus," terang Herlan.

Ia memaparkan tanaman padi yang dijamin oleh AUTP, yakni dilanda bencana banjir, kekeringan, dan Organisme Penganggu Tanaman (OPT) tertentu.

Serangan OPT yang ditanggung antara lain serangan hama seperti tikus, wereng coklat, walang sangit, penggerek batang, ulat grayak. Sedangkan serangan penyakit yang ditanggung asuransi antara lain blast, tungro, bercak coklat, busuk batang, dan kerdil hampa.

“Klaim asuransi bisa diajukan apabila kerusakan akibat gagal panen mencapai 75%. Perusahaan asuransi akan menilai besar kerugian klaim dan pertanggungan dibayarkan selambat-lambatnya 14 hari sejak klaim diajukan,” pungkasnya.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR