ADA seseorang yang kami kenal sebagai seorang yang diberikan kedudukan tinggi di dunia ini; di hadapan manusia. Beberapa waktu yang lalu beliau wafat.

Masya Allah, selang satu jam tersiar berita duka, semua masyarakat bergerak. Tamu berdatangan ke rumah megahnya. Tidak sampai tiga jam, jalan raya di sekitar rumah duka penuh dengan karangan bunga yang tersurat dari rupa-rupa orang besar di negeri ini.



Jalanan ditutup untuk umum, dijaga oleh polisi militer. Patroli pengawalan disiapkan, panitia pengurusan jenazah didatangkan khusus. Keluarga tidak mau pengurusan oleh jemaah masjid.

Hingga selesailah jenazah dikafani dan siap disalatkan. Di luar rumah, ratusan orang sudah berjejalan hadir. Maka diputuskan jenazah disalatkan di masjid. Segera kami siapkan.

Masjid siap, jenazah sudah di hadapan imam, tapi yang berbaris di belakang imam baru sepuluh orang. Subhanallah!

Kami susul para pelayat di luar masjid. "Pak, Bu, ayo ambil wudu! Salat jenazah mau dimulai! Ayo, Pak!" kami mengajak.

Namun, tamu-tamu elite dan sosialita ini berujar di luar dugaan, "Ini susah buka sepatunya, Dek!" atau "Kami doakan saja, Dek, dari sini," timpal ibu yang lain sambil becermin ke kaca mobil.

Subhanallah, kami seru tetangga-tetangga kampung kami yang sama-sama hadir menyaksikan prosesi megah ini, "Pak, Bu, ayo! Cepet wudu! Ayo, Pak, diminta keikhlasannya!"

Bapak ibu tetangga kami ini hanya menggeleng, sambil tersenyum, "Moal, Cep. Isin! Seu-eur jalmi ageung!" (Enggak, Dek, Malu! Banyak orang besar!). Kami terhenyak menyerah.

Akhirnya, kami kembali ke dalam masjid, yang saat itu terhimpun sekitar 20 orang yang kemudian kami bagi menjadi tiga saf. Jenazah pun disalatkan.

Semoga Allah mengampuni almarhum, menyayangi beliau, dan memasukkan beliau ke dalam surga-Nya yang penuh kenikmatan.

Ibrah bagi yang hidup, berkawanlah dengan mereka yang pada waktunya, ikhlas menyalatkan jenazah kita, bahkan walau pun harus menempuh jarak.

Mereka yang ikhlas mau mendoakan ampunan Allah bagi kita ketika jasad ini sudah kaku. Berdekatanlah dengan mereka yang benar-benar menyayangi kita dunia-akhirat. Sebab, karangan bunga tidak menambah apa-apa.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR