BEGITU besar nama Teluk Lampung. Karena keelokan bibir pantai dan pesona alamnya, ia diungkapkan dalam sebuah untaian lagu bercerita tentang keindahan. Lagu Teluk Lampung ber­sama Tanah Lado dan Mekhanai Toho meraih pengakuan internasional ketika tampil pada acara Korean World Travel (Kofta) di Kota Seoul, Korea Selatan, Juni 2008.
Karena kehebatannya itu juga, Teluk Lampung diabadikan dalam sebuah nama kapal perang Republik Indonesia (KRI) eks Jerman Timur di era Presiden Soeharto tahun 1994. KRI bernomor lambung 540 itu sebagai armada pendarat bagi pasukan Marinir serta pengangkut logistik. Perairan di Teluk Lampung juga surga—dilayari bagi kapal besar karena lautnya yang dalam.
Terasa tidak pantas menyandang kebesaran dan kehebatan ketika bibir pantai Teluk Lampung dipenuhi sam­pah. Jorok dan berbau. Menko Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan menyin­dir pemerintah daerah di Lampung ini usai menyaksikan sendiri kondisi laut yang kotor. Di hadapan ekonom se-Indonesia, pada pertengahan Oktober lalu, Luhut menilai menumpuknya kotoran itu disebabkan buruknya penanganan sampah di darat.
Nah lo, pemerintah daerah yang mana yang disindir Menteri Luhut itu? Yang jelas, sepanjang 108 kilometer bibir pantai di tiga wilayah, yaitu Lam­pung Selatan, Bandar Lampung, dan Pesawaran, tercemar sampah. Indo­nesia saat ini masuk daftar negara ter­kotor kedua di dunia setelah Tiongkok. Sampah di laut menghambat pengem­bangan wisata bahari. Tidak perlu saling menyalahkan, memarahi orang karena buruknya mengelola sampah.
Kebersihan juga adalah sebuah harga diri! Kawasan perairan yang paling mendominasi timbunan sampah berada di teluk antara lain Panjang, Sukaraja, dan Lempasing. Sedangkan Pesawaran dan Lampung Selatan tidak separah di Bandar Lampung. Sekretaris Kota Badri Tamam mengakui kondisi 19 aliran sungai di kota ini sudah tercemar karena limbah rumah tangga yang sering dibuang ke sungai.
Bahkan, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung pernah mengungkapkan tingkat pencemaran sungai di Bandar Lampung sudah ma­suk kategori membahayakan. Dengan begitu, ketersediaan air bersih yang menjadi sumber kehidupan sangat kri­tis. Di Way Kuripan dan Way Sukamaju, contoh nyata. Bahkan, Way Awi lebih parah lagi karena terdapat rumah sakit dan pasar—sampahnya tak diolah lagi bahkan dibuang ke sungai.
Kalangan organisasi kemasyarakatan seperti Nahdlatul Ulama (NU) sempat menggelar diskusi menanggulangi tercemarnya sungai di kota ini akibat sampah rumah tangga, pabrik, juga tambak udang. Bahkan, permukiman padat penduduk tidak memiliki septic tank. Limbah cair yang berasal dari pabrik dan rumah tangga juga lang­sung dikirim ke sungai.
Akibatnya, sungai menjadi keruh dan berbau. Oksigen dalam air pun tidak larut akibat banyaknya kandungan bahan kimia. Air sungai tidak layak lagi dikonsumsi sebagai air minum. Yang ada hanyalah menimbulkan penyakit paru-paru, ginjal, kanker, jantung, dan pernapasan. Jika pencemaran didiam­kan lima tahun mendatang, entah apa yang akan terjadi?

***



Keindahan dan kehebatan di Teluk Lampung sebuah anugerah datang dari Ilahi. Janganlah pencemaran sampah dan limbah dibiarkan karena ketidakmampuan mengelola dan menegurnya. Sang Pencipta akan murka. Karena di laut teluk ini terham­par banyak pulau, antara lain Pulau Legundi, Tangkil, Pasaran, Sebesi, Se­buku, Kelagian, Condong Laut, Tegal, dan Pahawang. Bahkan, ada gugusan pulau-pulau menyerupai Raja Ampat Papua.
Pada Ajang Anugerah Pesona In­donesia 2016, ada tiga wisata di Lam­pung masuk nominasi Kementerian Pariwisata. Pertama, Pulau Pahawang di Pesawaran meraih kategori Surga Tersembunyi Terpopuler (Most Popular Hidden Paradise). Kedua, Pantai Tanjung Pesona di Pesisir Barat masuk nominasi Tempat Berselancar Populer (Most Popular Surfing Spot). Ketiga, Teluk Kiluan di Tanggamus untuk kategori Tujuan Wisata Baru Terpopuler (Most Popular New Destination).
Keindahan pulau-pulau di kawasan Teluk Lampung itu tak kalah indahnya dengan Gili Terawang di Lombok, Bunaken di Sulawesi Utara, dan Raja Ampat di Papua. Pahawang sudah menyedot jutaan pengunjung, karena pesona bawah lautnya menarik untuk menyelam. Belum lagi terumbu karang dan ikan warna-warni, serta pantai putih yang menggoda pengunjung.
Keindahan Teluk Lampung harus dijaga! Jika tidak dirawat, tidak ada lagi yang patut dibanggakan. Berdasarkan hasil kajian, pantai yang rusak parah itu mulai dari Panjang hingga Sukaraja, bahkan Lempasing. Pantai di situ ru­sak karena kepentingan pelabuhan, pabrik, dan kawasan permukiman yang menjadikan laut—teluk sebagai tong sampah. Di Lempasing, aktivitas pengelolaan objek wisata sudah tidak mengindahkan lingkungan. Belum lagi tambak udang dan reklamasi menjadi pemicu rusaknya biota laut.
Anak-anak bangsa perlu mengenda­likan sampah itu. Dan, Lampung harus bangga, karena mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Univer­sitas Lampung (Unila) yakni M Jerry J Suja, Yudi Eka Putra, dan Andri Gu­nawan menemukan, mengembangkan robot kapal pengangkut sampah. Robot tanpa remote control itu diberi nama Monster of River and Litter Roboboat (Monstrolibo).
Perkembangan terakhir, robot karya anak bangsa ini, selain mengangkut sampah, mengukur suhu, dan derajat keasaman air, juga mampu mengukur kedalaman sungai-laut. Sebagai sumber energi, kapal itu mulai beralih menggunakan panel surya sebagai sumber energinya. Penemuan robot ini juga mungkin terinspirasi oleh pence­maran di laut.
Pastinya sampah yang mengam­bang di bibir pantai, akankah dikendal­ikan oleh Monstrolibo? Kita tunggu saja. Rakyat sudah bosan dengan setumpuk peraturan yang dibuat parlemen, karena hanya menjadi wacana dan ti­dak menghasilkan apa-apa. Sementara setiap hari, puluhan ton sampah yang diproduksi dari darat terus dikirim ke laut—sebagai tempat pembuangan akhir (TPA). Tidak ada kekuatan yang mampu menghentikannya. ***

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR