BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Peserta pelatihan, Nabilla Zahara warga Natar, Lampung Selatan mengatakan pelatihan tersebut diharapkan dapat menunjang usahanya yang baru berusia setahun untuk dapat masuk ke pasar ekspor.

"Usaha saya namanya Bibil memproduksi tas dan pouch dari bahan percak, yaitu dari limbah kain tapis dan sulam usus. Utamanya saya pakai dari kain tenun," kata pemilik usaha yang juga mahasiswa di Yogyakarta itu.



Menurutnya, banyak produk pengrajin tapis dan anyaman yang kainnya terbuang. Limbah tersebut yang digunakan untuk mengkreasi potongan kain tapis dan tenun bekas menjadi tas yang menarik dipakai.

"Banyak pengrajin tapis dan anyaman yang bahannya kebuang dan dari pada kebuang, kan sayang makanya saya alihin untuk tas dan pouch. Ternyata masih bisa digunakan jadi tas yang bagus," ujarnya.

Billa mengaku menjajaki produknya secara daring, seperti melalui Instagram dengan pasar berada di wilayah Lampung dan Yogyakarta. "Kalau ekspor belum pernah, karena usahanya juga baru berjalan 1 tahun. Tapi, ya ingin juga berkembang ke daerah-daerah lain sampai ke luar negeri," tuturnya.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR