LIWA (Lampost.co) -- Sanggar Seni Setiwang Lampung Barat akan mewakili Lampung pada ajang tingkat nasional setelah berhasil meraih juara pada parade tari daerah Festival Krakatau Tahun 2018 lalu.

Sanggar Senin Setiwang Lambar berhasil menampilkan tari kreasi ‘lom pahakh’ tingkat provinsi dengan menyabet semua kategori terbaik yakni, penampil terbaik I, penata tari terbaik I atas nama Ahmad Susantri, penata busana dan rias terbaik I  atas nama Heni Purnamasari, dan penata musik terbaik II atas nama Ricad Sambera.



Kasi Antraksi dan Daya Tarik Wisata Endang Guntoro, mendampingi Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Lambar Indra Kesuma, Jumat (17/8/2018),  mengatakan ketiga putra terbaik ini telah mempersembahkan yang terbaik dalam dua tahun terakhir ini.

”Sejak beberapa tahun ini Lampung Barat terus berhasil pada ajang parade tari daerah Lampung Festival Krakatau," kata dia.

Ditetapkannya Lambar sebagai juara umum itu, lanjut dia, maka Sanggar Seni Setiwang akan mewakili Lampung ke kompetisi serupa di tingkat nasional yang akan berlaga dengan seluruh perwakilan provinsi se-Indonesia.

Tim akan bertolak menuju Jakarta pada 17 Agustus 2018 ini dengan jadwalnya yaitu penerimaan kontingen 18 Agustus 2018 dan tari kreasi lom pahakh akan tampil pada sesi II kompetisi Parade Tari Nusantara 2018 dengan nomor urut tampil 15 diapit oleh Provinsi Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan.

Bupati Parosil Mabsus, kata Endang mengaku bangga atas keberhasilan itu. Bahkan ibu bupati Partinia sebagai pembimbing turut berdoa agar sanggar binaanya itu diberi kesuksesan dalam mengikuti ajang tersebut.

Endang menambahkan, karya tari ini diciptakan awalnya terinspirasi dari posisi kaum ibu dalam acara Ngejalang. Prosesi adat Ngejalang yang tumbuh di masyarakat Lampung Barat memiliki berbagai macam jenis. Secara garis besar Ngejalang merupakan acara berdoa bersama dan silahurahmi. Dimana salah satu rangkaian prosesinya adalah acara makan besar dengan sajian makanan di dalam pahakh, di sinilah peran ibu sangat diperlukan.

”Karya ini menyajikan esensi mempersiapkan, menyediakan, dan merapihkan makanan dalam prosesi ngejalang, diolah menjadi sebuah representasi sosok ibu yang selalu siap bekerja memenuhi kebutuhan dalam keluarga maupun struktur adat istiadat, dengan tetap menampilkan pahakh sebagai identitas ngejalang yang tetap lestari sebagai prosesi atau rangkaian adat Lampung Barat yang hidup di masyarakat,” paparnya.

Lom pahakh lanjut Endang, berarti ‘dalam pahakh’ tidak hanya sekedar menampilkan hidangan di dalam pahakh,. Akan tetapi sebuah rangkuman akan pesan posisi kaum ibu dalam struktur kehidupan masyarakat Lampung yang memiliki sistem adat masyarakat  patrilineal yang direpresentasikan dari prosesi adat Ngejalang.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR