SUKADANA (Lampost.co) -- Target penerimaan pajak daerah dari sektor pajak mineral bukan logam dan batuan (batu belah) yag ditetapkan oleh Pemkab Lamtim sejumlah Rp6,5 miliar tidak pernah terealisasi atau 0 persen. Pasalnya untuk menarik pajak dari sektor dimaksud tidak dapat dilakukan, karena izin usaha mineral bukan logam dan batuan tersebut tidak ada.

Sekretaris Badan Pendapatan Daerah (Bapenda), Taufik, kepada Lampost.co, Senin (2/7/2018) menjelaskan pada 2018 Pemkab Lamtim menetapkan penerimaan dari pendapatan asli daerah (PAD) sejumlah Rp221,679 miliar. PAD tersebut berumber dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah.



Sumber PAD dari pajak daerah sendiri ditetapkan sejumlah Rp45,430 miliar, dimana salah satu pendukung sumber penerimaan dari pajak dimaksud adalah pajak mineral bukan logam dan batuan (batu belah) atau kerap disebut galian C. Dari pajak mineral bukan logam dan batuan itu, target penerimaan yang ditetapkan sejumlah Rp6,5 miliar.

Namun, lanjut Taufik, sejak 2015 termasuk pada 2018 ini target penerimaan untuk PAD dari sumber pajak mineral bukan logam dan batuan tersebut tidak pernah terealisasi sepeser pun. Pada 2018 ini juga dipastikan target penerimaan dari pajak dimkasud sejumlah Rp6,5 miliar juga tak akan terealisasi.

Target penerimaan PAD yang bersumber dari pajak tersebut sejumlah Rp6,5 miliar, ujar Taufik, tidak bisa terealisasi bukan karena Pemkab Lamtim melalui Bapenda setempat tidak mau berusaha melakukan penarikan. Namun memang tidak bisa dilakukan penarikan pajaknya, sebab sejak beberapa tahun silam izin usaha untuk sektor mineral bukan logam dan batuan tersebut memang sudah tidak diterbitkan lagi oleh Pemerintah Provinsi Lampung.

Karena tidak ada izin usaha dimaksud, maka pihak Pemkab Lamtim dalam hal ini Bapenda setempat tidak dapat melakukan penarikan pajaknya karena tidak ada dasar hukumnya. “Jadi itu masalahnya kenapa penerimaan PAD yang bersumber dari pajak mineral bukan logam dan batuan yang selalu kita targetkan tidak pernah terealisasi sepeserpun,” kata Taufik.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR