LIWA (Lampost.co) -- Realisasi target PAD yang bersumber dari bidang perizinan hingga Jumat (29/9/2017) baru mencapai Rp79,9 juta (62,59%) dari target Rp127,7 juta.
Dari jumlah realisasi itu, sebesar Rp66,7 juta (94,50%) adalah realisasi PAD yang bersumber dari retribusi izin mendirikan bangunan (IMB) dari target Rp70,5 juta. Sementara sisanya adalah realisasi izin gangguan sebesar Rp11 juta dari target Rp52,8 juta. Kemudian realisasi izin trayek kepada orang/pribadi Rp2,1 juta dari target Rp4,3 juta.
Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Lampung Barat Sudarto, kemarin, menjelaskan PAD yang bersumber dari IMB dikelola dua pihak yaitu Dinas Perizinan dan pihak kecamatan. Dari 15 kecamatan yang ada, terdapat dua kecamatan yang target retribusi IMB-nya hingga saat ini belum terealisasi sepersenpun yaitu Kecamatan Sukau dan Lumbok Seminung
Sesuai dengan laporan yang diterima pihaknya, baik dari kecamatan maupun pihak Dinas Perizinan adapun rekafitulasi realiasi IMB itu terdiri dari Kecamatan Sumberjaya terealisasi Rp999 ribu dari target Rp7,8 juta (12,27%). Kebun Tebu Rp7,2 juta dari target Rp4,7 juta (154,27%. Gedung Surian Rp804 ribu dari target Rp5 juta (16,00%).
Kemudian Kecamatan Way Tenong Rp2,5 juta dari target Rp7,8 juta (32,48%). Air Hitam Rp4 juta dari target Rp3,1 juta (129%). Pagar Dewa Rp839 ribu dari target Rp3,1 juta (26,96%). Sekincau Rp8,3 juta dari target Rp5,9 juta (141,46%).
Batuketulis Rp2,3 juta dari target Rp3,1 juta (75,71%. Batu Brak Rp96 ribu dari target Rp3,1 juta (3,08%). Belalau Rp3,4 juta dari target Rp3,8 juta (90,59%). Balikbukit Rp33,8 juta dari targer Rp9,9 juta (340,18%). Suoh Rp726 ribu dari target Rp3,1 juta (23,33%) dan Bandarnegeri Suoh Rp1,3 juta dari target Rp2,7 juta (50,35%).
Sementara dua kecamatan lain, yaitu Kecamatan Sukau dengan target Rp4,3 juta dan Lumbok Seminung Rp2,7 juta hingga saat ini belum terealisasi sepeser pun. Diharapkan agar pihak kecamatan dan OPD terkait untuk dapat memperhatikan kemungkinan adanya potensi bangunan yang hingga saat ini belum memiliki IMB.

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR