KALIANDA (Lampost.co) -- Eksotisme tebing batu bak relief, berpadu dengan birunya laut nan bersih dan natural di Pantai Tanjung Tua Dusun Sukarame, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, menurut sejarah merupakan endapan lava letusan Gunung Krakatau tahun 1883.
Destinasi wisata yang terkenal sebagai spot-nya para mania mancing lantaran banyaknya ikan berukuran besar itu memiliki hamparan pasir putih dengan tebing curam dan batu berukuran raksasa.
Para penggila pancing tentu saja akrab dengan pantai yang berjarak sekitar 8 km sebelah barat Pelabuhan Bakauheni itu. Lokasi wisata alam yang dikelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dusun Sukarame, Desa Bakauheni, itu semakin populer beberapa tahun belakangan ini, setelah anak-anak muda pencinta travelling mengunggah swafoto mereka dari atas tower setinggi 130 meter di atas permukaan laut ke media sosial (medsos).
Untuk sampai ke tower itu, pengunjung harus menempuh medan perjalanan cukup menantang selama kurang lebih 20 menit menyusuri bibir pantai yang dipenuhi tebing-tebing curam dan bebatuan besar. Namun, rasa lelah akan terbayarkan pemandangan birunya air laut dan hamparan pasir putih dengan latar belakang tebing bebatuan besar nan kokoh membentuk pulau kecil di pinggir pantai. Menatap lepas ke Selat Sunda terlihat gugusan Pulau Sebesi dan Gunung Anak Krakatau (GAK).
Namun, akses menuju destinasi wisata dengan view favorit dari atas menara terbilang sulit dijangkau dengan kendaraan roda empat hingga ke bibir pantai. Bagi Anda yang berangkat dari Pelabuhan Bakauheni, arahkan kendaraan menuju Jalan Lintas Sumatera. Sesampainya di simpang empat SPBU dan pasar Bakauheni, ambil rute ke kiri dengan jarak tempuh sekitar 7 km menyusuri kondisi jalan yang naik turun dan menyempit. Menyulitkan kendaraan roda empat untuk menjangkau surganya para penggila mancing tersebut.

Ciptakan Lapangan Kerja



Untuk biaya masuk ke pantai, Pokdawis setempat memasang tarif Rp10 ribu per unit sepeda motor. Wisatawan yang membawa kendaraan roda dua harus menitipkan kendaraannya di rumah warga, dilanjutkan menempuh perjalanan sekitar 2 km. Namun, bagi yang enggan berjalan kaki, warga sekitar menyediakan jasa ojek Rp15 ribu per orang. Sementara yang ingin menuju pantai dengan menempuh jalan kaki akan disuguhi areal perkebunan cokelat dan jagung dengan kondisi jalan yang telah di-paving block dan rabat beton.
Ketua Pokdawis Tanjung Tua Didik menuturkan selain biaya masuk ke pantai, Pokdawis juga mengutip Rp15 ribu per pengunjung yang hendak naik ke tower. Menurut dia, uang yang dikumpulkan itu digunakan untuk keamanan, kebersihan, menambah fasilitas pantai, dan sebagian disumbangkan untuk pembangunan masjid di Dusun Sukarame.
“Dengan adanya destinasi wisata alam Tanjung Tua ini telah menciptakan lapangan pekerjaan bagi pemuda. Apalagi pengelolaan wisata Pantai Tanjung Tua diserahkan kepada pokdawis desa,” ujar Didik kepada Lampung Post, Jumat (25/8/2017).
Staf Ahli Bupati Lampung Selatan bidang Ekonomi dan Pembangunan Erlan Murdiantono mengatakan Lampung Selatan dikenal dengan wisata baharinya. Mulai dari pesisir timur dengan Pantai Batu Putih dan Pantai Puri Dewata. Pada garis pantai barat mulai dari Pantai Tanjung Tua, Minang Rua, Kahai, Grand Elty, Tapak Kera, hingga ke Pantai Pasir Putih di Kecamatan Katibung.
Berderetnya destinasi wisata itu, ujar Erlan, membutuhkan kreativitas untuk menarik minat wisatawan. Untuk itu, dibutuhkan peran serta dari instansi terkait yang memiliki tugas dalam pengembangan sektor wisata, di antaranya Dinas Pariwisata Seni dan Budaya serta para sukarelawan peduli wisata, pemerintah kecamatan, desa, hingga pokdarwis tingkat desa yang memiliki destinasi wisata dan pelaku usaha ekonomi kreatif termasuk para pedagang.

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR