BANDAR LAMPUNG (lampost.co) -- Memberikan pemahaman anak tentang perbedaan ternyata perlu dilakukan sedini mungkin. Namun, terkadang orang tua tidak memiliki kesadaran untuk memberikan pendidikan dan menanamkan pemahaman bahwa perbedaan itu ada dan nyata kepada anak. Kebanyakan orang tua justru menghindar membahas hal-hal yang masih dianggap tabu seperti perbedaan suku, agama, ras dan, antargolongan (SARA).
Psikolog anak dan remaja, Elizabeth Santosa, mengatakan kemampuan anak untuk menyerap informasi baru dengan cepat membuat mereka mudah dan rentan disusupi ajaran sikap intoleransi hingga melakukan kebencian. Oleh karena itu, orang tua perlu memberikan pemahaman tentang perbedaan dan membangun sikap toleransi anak.
Menurut Elizabeth, anak usia tiga tahun sudah mampu mengenali perbedaan. Yang paling mudah adalah yang tampak secara fisik. Misalnya, kulit putih dan kulit hitam atau dari sisi bahasa sehari-hari yang digunakan. "Pengetahuan itu harus diberikan sedini mungkin. Saya katakan usia tiga tahun sudah bisa, mengapa tidak. Anak usia tiga tahun sudah mulai prasekolah saat itu kita bisa mulai mendiskusikannya dengan anak," katanya.
Elizabeth mengatakan orang tua harus memberikan pemahaman kepada anak bahwa saling menghargai sesama dengan bersikap toleransi, mengasihi tanpa membeda-bedakan adalah perilaku terpuji. "Banyak nilai lain yang bisa kita ajarkan, cuma kegagalannya orang tua kadang kurang menanamkan sikap toleransi, cuek. Dan, orang tua yang cuek itu justru yang berbahaya," ujar dia.
Ketika orang tua tak mampu mengajarkan bagaimana bertoleransi, anak akan mendapatkan pemahamannya dari luar yang bukan tidak mungkin akan salah arah. Imbasnya, pengaruh buruk lingkungan luar akan membuat anak intoleran, tak mau menerima perbedaan dan akhirnya berujung pada perundungan terhadap orang lain yang dianggap berbeda.
"Saatnya orang tua banyak diskusi, komunikasi, melatih pola pikir kritis, jangan merasa bahwa di sekolah anak kita baik-baik saja, kita tidak pernah tahu," ujar Elizabeth.

Pembelajaran Utama



Menanamkan karakter toleransi terhadap sesama merupakan salah satu pembelajaran utama yang dilakukan di Taman Kanak-kanak Fransiskus Gisting, Tanggamus. Kepala TK Fransiskus, Gisting, Krispina, mengatakan pembentukan karakter merupakan hal pokok yang harus diprogramkan dalam pendidikan anak usia dini.
Khusus untuk memupuk sikap toleransi, pihaknya berusaha untuk memberikan pengertian bahwa tidak ada yang salah pada perbedaan kepada siswa. Sikap tersebut harus dimiliki pada diri setiap orang guna mencapai kedamaian dan kerukunan hidup.
"Kami berusaha memberikan pemahaman dan mencontohkan sikap toleransi dan tenggang rasa. Bagi kami ini merupakan suatu hal yang perlu ditanamkan sejak dini," kata Krispina, baru-baru ini.
Meski sebagai sekolah Katolik, TK Fransiskus juga menerima siswa beragama lain, seperti Islam, Hindu, Buddha, dan Protestan. Menurut Krispina, itu merupakan suatu pembelajaran yang baik bagi siswa untuk dapat bergaul meski berbeda latar belakang kepercayaan.
Selain memupuk sikap toleransi, sekolah ini juga menerapkan enam aspek pendidikan lain dalam program belajar siswanya, meliputi agamais, sosial emosional, bahasa, kognitif, motorik, dan seni. Sebab, diharapkan anak tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga mencakup dari segi psikomotorik, sosial, dan moral. 

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR