SEKITAR abad ke-12 atau 13, orang Melayu berhasil memasuki pegunungan ini. Kelompok suku Semendo-Melayu melawati jalur pegunungan dari barat menuju daerah selatan. Dengan ini dimulailah masuknya orang Abung dari utara Sekala Bkhak sebagai tahap terakhir.

Nenek moyang penduduk ini nantinya membentuk empat suku yang bernama Semendo-Ulu-Luas yang sampai sekarang memiliki nama Sinding-Danau, Ulu Nasal, Maura Saung, dan Sungai Aro. Suku-suku Semendo itu kemudian berpisah dari suku utama bangsanya di balik pegunungan Bukit Barisan.



Kelompok suku lainnya dari penduduk luar harus segera memasuki wilayah ini setelah pecahnya konflik antara orang Abung dan Semendo-Melayu. Ini merupakan nenek moyang pendatang baru dari Minangkabau luar yang berkaitan dengan suku pendatang dari selatan wilayah Kroe dan Kenali.

Kini seluruh orang Abung telah lenyap dari wilayah antara laut Ranau dan Air Padanggutji. Nenek moyang suku tersebut kini hidup sebagai suku Buwei Lima dan Mego Pak, kelompok suku Abung paling utara, di dataran rendah Way Umpu.

Pada kelompok ketiga di bagian paling selatan dari orang Abung lama di pegunungan itu, tinggal di antara barisan pegunungan Rindingang (1.508 meter) di wilayah barat dan Tanggamus (2.102 meter) di wilayah barat daya dan anak Way Seputih di wilayah utara. Kemungkinan, bukit masih menutupi wilayah suku Abung lama ini dan berakhir di kaki pegunungan, di sana juga telah tinggal suku Pubian sejak lama, penduduk asli dataran rendah.

Wilayah tenggara terdiri atas daerah perbukitan yang tingginya antara 200 dan 450 meter. Daerah yang membentang dari wilayah Talangpadang sekarang menuju barat laut ini dapat dilihat di peta berupa teluk di dataran rendah bagian timur. Tentu saja peta tersebut mengecoh.

Wilayah itu memiliki pemandangan amat mirip dengan pemandangan yang dimiliki dataran tinggi Kenali di Danau Ranau. Meskipun begitu, tampak jelas bekas tanah lapang yang luas berupa dataran alang-alang yang terbentang. Rerumputan ini mengindikasikan bahwa tanah di sana tidak begitu subur karena tanahnya tidak dapat ditumbuhi tanaman lain, seperti hutan hujan. Meski demikian, wilayah ini dulunya merupakan pusat permukiman penduduk Abung.

Sekitar tahun 1765, 10 kampung orang Abung dihancurkan orang Paminggir dataran Semangka di sungai kecil Way Muaraabung dan Way Negeriabung. Di tepi selatan Way Ilahan atas terdapat kompleks menhir yang dibangun orang Abung. Di bagian utara kompleks, di Tangkit Kurupan, mereka mewariskan kompleks menhir kedua yang bernama sesuai gunung ini. Kompleks itu ditemukan Friederich W Funke pada 1953.

Selama di lokasi yang lebih rendah di daerah ini, di bagian paling bawah sungai Way Muaraabung, Way Mintjang, dan Wai Negeriabung, dataran punggung bukit sekarang sebagian besar hanya ditumbuhi rumput alang-alang atau lainnya, tanaman pendek. Karenanya pemandangan di sini memiliki ciri yang jelas, wilayah tepi pada pegunungan lebih tinggi tertutup hutan belantara.

Bagian atas sungai Ilahan, Sekampung, dan Sangharus mengalir berliku-liku sepanjang hutan belantara yang tidak pernah tertembus sinar matahari. Terkadang, mata air dipenuhi batu-batu besar, sehingga air menghasilkan buih di antara batu-batu tersebut. Kedua kompleks menhir Talangpadang dan Tangkit Kurupan tersebut berada di area hutan belantara ini. Tentu saja hutan ini menjadi bagian yang paling penting.

Hal ini pun tidak mungkin jika orang Abung memasukkan batu megalit ke dalam hutan belantara setelah melaksanakan upacara. Mereka akan memilih daerah yang telah dihuni sebelumnya untuk mendirikan kompleks batu-batuan tersebut.

BERITA LAINNYA


EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR