MENGGALA (lampost.co) -- Terik mentari begitu menyengat dan membakar kulit di Minggu (5/11) siang. Meskipun demikian, pancaran Si Raja Siang tidak juga menyurutkan semangat lelaki itu untuk mengais rezeki.
Suhu udara demikian panas memaksa keringatnya bercucuran membasahi sekujur tubuhnya. Kulitnya yang gosong itu pun menandakan ia kerap bertarung melawan cuaca panas mendera.
Hanya berbekal sebuah topi usang, sang lelaki dengan derai keringat yang nyaris membasahi seluruh pundaknya, berusaha melindungi bagian kepalanya dari sengatan matahari.
Ia perlahan mulai melangkahkan kaki. Sambil menarik sebuah kayu yang dirakit menyerupai sisir, ia menyusuri dari ujung ke ujung lahan seperempat hektare dengan saksama meski panas.
Suroto nama laki-laki kelahiran Purworejo, Jawa Tengah 1970 silam. Ia merupakan satu dari puluhan warga yang bekerja sebagai buruh penjemur onggok, di wilayah Banjaragung.
Ia mengatakan pertama kalinya masuk Lampung, saat masih berumur 12 tahun karena orang tuanya mengikuti program transmigrasi pada 1982. Sebab itu, sampailah ia di Lampung.
Seingatnya, sejak 1985 ia sudah menjadi buruh penjemur onggok. Onggok merupakan sisa limbah pabrik tapioka berupa ampas singkong, menjadi satu-satunya sumber penghidupan keluarga.
Karena itulah lelaki hampir separuh abad itu bangga akan pekerjaannya. "Dari bujang sampai punya cucu kerja jemur onggok, inilah mata pencarian saya," kata Suroto.
Dibantu sang istri, dari lahan seperempat hektare yang dikerjakannya mampu mengumpulkan 200 sak onggok kering. Sementara untuk upah, dihitung per 25 karung Rp110 ribu.
Suroto menceritakan ketika cuaca cerah pukul 07.00, ia bersama sang istri mulai menabur onggok untuk dijemur, menjelang tengah hari onggok-onggok tersebut digaru agar kering merata.
Menurutnya, proses penjemuran sangatlah bergantung adanya panas matahari sebagai alat pengering karena ketika cuaca terik, proses penjemuran hanya membutuhkan waktu tiga hari.
Hal berbeda ketika cuaca tidak bersahabat, proses pengeringan membutuhkan waktu lama dan terpaksa mempertahankan dapurnya tetap mengepul, ia terkadang harus meminjam uang pemilik lahan.
“yang terpenting bagi saya cuaca bisa terang agar saya tetap kerja," ujarnya yang mengaku keterbatasan modal tidak mampu membuatnya lepas dari jeratan sebagai buruh.
Meskipun demikian, ia tetap bersyukur walau jadi buruh tetap bisa makan. Daripada saya harus mengeluh meminta bantuan karena belum tentu mereka dengar. 

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR