BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Proses pembayaran dana proyek gagal dibayarkan karena surat-surat tanah milik 28 orang masyarakat diduga palsu. Pembayaran itu merupakan pembayaran tanah peruntukan bendungan di Way Bekarang Desa Sumberrejo, Kecamatan Waway Karya, Lampung Timur yang direncanakan dibayarkan hari ini, Selasa (11/12/2018) oleh Kantor Cabang BRI di jalan Raden Intan Bandar Lampung gagal.

Sejak pukul 08.00 WIB ada 28 orang dari Lampung Timur yang berharap dana itu cair tampak kecewa sebab hingga sekitar pukul 14.00 belum ada kejelasan dana itu dibayarkan kepada 28 orang tersebut. Diluar ataupun di dalam gedung BRI tampak sejumlah aparat Kepolisian, di antaranya perwira menengah dari Polda Lampung hadir disana. Belasan wartawan dari sejumlah media masa baik cetak maupun elektronik juga hadir. Namun mereka hanya menunggu di halaman Bank BRI.



Yang mengaku pemilik tanah Swardi Ibrahim merasa masyarakat tidak layak menerima pembayaran karena surat-mereka ada yang dibuat tahun 2017, sementara Swardi Ibrahim sudah mempunyai tanah tersebut dari tahun sembilan puluhan.

“Surat tanah klien saya ada untuk luas kurang lebih 127 hektare mempunyai dasar Surat Keterangan Tanah (SKT), dilengkapi dengan surat pemeriksaan tua-tua kampung, terdapat surat akta camat, serta sudah ada tandatangan atas nama Kepala BPN Lampung Tengah (sebelum pemekaran) menyatakan layak ditebitkan hak milik, termasuk sudah ada surat ukur,” tegas David Sihombing kuasa hukum Swardi Ibrahim.

David menjelaskan, dirinya sudah datang ke Bank BRI Tanjungkarang pada saat informasi mau dibayar, dan terlihat para pejabat terkait seperti kepala BPN, pihak Balai dan pihak masyarakat sedang berada di Bank BRI, akan tetapi pada saat mau bertemu dengan para pejabat terkait dicegat oleh masyarakat yang mengaku tanahnya dibayar.

“Saya di sana hanya sekitar satu setengah jam, tiba-tiba masyarakat mengatahui kami akan melakukan keberatan, maka kami diminta masyarakat agar segera meningkalkan Bank BRI, mengingat akan ada kemungkinan amukan massa, jadi karena tidak ada jaminan keamanan kami segera pergi,“ ujar David.

loading...

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR