SELAMA dataran tinggi Kenali harus dibuka oleh suku Abung, setelah masuknya pendahulu Paminggir di bawah utusan empat putra raja dari Minangkabau di abad ke-13, mungkin saja suku Abung masih bertahan lebih lama di sebelah wilayah pegunungan bagian timur.

Di antara Gunung Pesagi, Ulumajus, Benatan, Sunanalah, Balirang, Sekincau, Gunung Abung, Bagelung, dan Rindingang,—sejauh hingga barisan pegunungan 2.000 meter—terdapat lembah hutan yang sempit, sebagian melintang, sebagian seperti jurang yang hingga sekarang pun tetap tidak ditempati manusia, semenjak suku Abung keluar dari tempat tersebut.



Wilayah ini tampaknya tidak terlalu padat penduduknya karena memang tidak terdapat cerita yang berkaitan dengan masyarakat Abung yang sekarang, dari sekadar fakta bahwa mereka pernah mendengar mengenai Sekala Bkhak.

Bagian utara dari pegunungan itu, seperti yang nanti akan ditunjukkan, kemungkinan baru di antara tahun 1350 dan 1400 SM ditempati oleh masyarakat Abung, sebagai kelompok besar pengembara Paminggir dari Kenali selatan Gunung Pesagi. Mereka merintis jalan ke wilayah pegunungan untuk berpindah ke lembah hutan Way Majus dan akhirnya bermukim di dataran antara Way Umpu dan Way Abung.

Kelompok Paminggir ini kemudian mendirikan Marga (suku) Bungamayang yang saat ini masih menempati wilayah tengah antara kedua perkumpulan suku besar orang Abung, Buwei Lima barat laut dan Abung Sewu Mego selatan. Suku orang Abung ini hidup berjauhan. Sejak pindahnya nenek moyang masyarakat Bungamayang ini, bagian timur Kenali hingga Gunung Abung tidak dihuni.

Dapat disimpulkan bahwa usaha antara Paminggir dan Abung di wilayah ini sangatlah keras; kelompok Abung yang diusir pada abad ke-13 melalui empat putra raja dari dataran tinggi Negarabatin-Kenali dan terdesak ke pegunungan timur ini.

Dalam hal ini, satu wilayah menerima perhatian khusus, yaitu lembah yang luas membentang antara barisan pegunungan Culuhabang dan Gunung Abung di utara, Bukit Rigis di barat, dan Ulusekampung di tenggara. Lembah Way Pitai memiliku panjang sekitar 15 km, sisi lembah Way Besai masih perlu ditambahkan sehingga panjang lembah keseluruhan mencapai lebih dari 30 km.

Lembah yang luas ini diberi nama Kebuntebu oleh penduduk dari Pulau Jawa, memiliki tanah yang sangat subur. Sisi timurnya, tepat di kaki Gunung Abung, pada 1953, terdapat area megalit terbesar di Indonesia yang terkenal hingga sekarang. Menhir dan batu ubin raksasa dalam jumlah yang besar membuktikan bahwa wilayah ini dulunya memiliki jumlah penduduk yang banyak dari wilayah lainnya. Namun, dari sini juga orang Abung menghilang sejak berabad-abad lamanya. Hutan belantara tropis membuat pepohonan di zaman batu besar tumbuh dengan lebat.

Baru pada titik balik abad ke-19 ke-20 masuklah orang Rebang-Melayu ke daerah lembah Way Besai dan di sana membangun Kampung Gedungsurian. Pada 1952, para transmigran dari Pulau Jawa berpindah ke dataran tinggi dan mulai membuka hutan dari dasar lembah.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR