KRUI (Lampost.co) – Di bawah terik sengatan matahari, berjalan di aspal mengenakan sendal jepit. Dengan langkah kecil tetapi cepat, Salim (38) mendorong gerobak es cendol saat pembeli memanggilnya. Dengan ramah dan cekatan, ia melayani para pembeli.
Kepada Lampost.co, pria berumur 38 tahun, warga Pekon Way Redak, Kecamatan Pesisir Tengah, yang berasal dari Bukitkemuning, Lampung Utara tersebut, menuturkan dirinya telah menjalani profesi sebagai pedagang es cendol keliling sejak tujuh tahun lalu. Berbagai suka duka telah ia alami dalam berjualan minuman yang menyegarkan, penghilang dahaga saat cuaca panas tersebut.
"Dukanya kalau musim hujan jarang laku alias sepi pembeli, kadang modal juga enggak kembali. Sukanya, kalau ada acara hajatan atau kegiatan pemerintah di lapangan, jualan es cendol laris," jelas Salim, saat bertemu Lampost.co, di Pekon Walur, Kecamatan Krui Selatan tersebut, di sela  melayani pembeli, Senin (18/9/2017).
Rata-rata kalau lagi mujur,  ia mendapat penghasilan kotor  Rp150 ribu per hari dengan keuntungan yang ia dapat sekitar Rp50 ribu.
Namun kalau pembelinya sedikit, pendapatannya belum bisa menutupi modalnya. Radius berdagang keliling setiap harinya sekitar lima kilometer dari rumah tinggalnya, yaitu dari Pasar Krui, Kecamatan Pesisir Tengah sampai Pekon Sukajadi, Kecamatan Krui Selatan.
Pria yang memiliki lima anak  dan telah tinggal di Krui selama 14 tahun itu  mengatakan saat jualan es cendol sepi, ia beralih bekerja menjadi buruh bangunan atau bekerja di ladang untuk memenuhi nafkah keluarganya. "Hasilnya juga untuk biaya anak sekolah, bayar utang, dan kebutuhan keluarga lainnya," kata dia.
Selaku masyarakat bawah, ia berharap pemerintah dapat memperhatikan dan membantu kehidupan ekonomi keluarganya dan umumnya  para pedagang kecil di kabupaten itu dengan memberikan bantuan dana untuk tambahan modal mereka.

 



 

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR