KALIANDA (Lampost.co) -- Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPH-Bun) Kabupaten Lampung Selatan menyatakanstok stok pupuk bersubsidi masih aman hingga saat ini.
"Kendati demikian, untuk pupuk NPK dan pupuk SP-36 tinggal sedikit. Oleh sebab itu, menjelang musim tanam rendeng kita meminta tambahan pupuk bersubsidi dengan DTPH-Bun Provinsi Lampung," ujar Kepala Seksi Pupuk Pestisida dan Alsintan DTPH-Bun Lamsel Yanti Sriyanti, Jumat (20/10/2017), ketika ditemui Lampost.co di ruang kerjanya.
Menurut dia, menjelang musim tanam rendeng kali ini DTPH-Bun Lampung Selatan telah mengusulkan tambahan pupuk bersubsidi seperti Urea sebanyak 2.000 ton, SP-36 (4.000 ton), ZA (500 ton), NPK (8.000 ton), dan pupuk organik sebanyak 3.000 ton.
"Penambahan pupuk bersubsidi tersebut sangat dibutuhkan para petani pada saat musim tanam rendeng Oktober -Desember 2017 ini saya berharap kebutuhan pupuk pada musim tanam kali ini dapat terpenuhi dengan baik sehingga petani tidak sampai menjerit soal pupuk," katanya.
Lebih lanjut Yanti menjelaskan hingga saat ini stok pupuk urea yang masih ada mencapai 10.015 ton untuk pupuk urea, pupuk SP-36 (1.315 ton), ZA (79 ton), NPK (742 ton), dan organik (477 ton).
"Hal ini bisa diketahui dari SK Kepala DTPH-Bun Provinsi Lampung pada tertanggal 14 September 2017. Di mana, alokasi pupuk urea sebesar 38.080 ton penyaluran mencspai 28.065 ton, SP-36 aloksinya 6.734 ton penyaluranya mencapai 5.419 ton, ZA alokasinya sebesar 648 ton penyaluran mencapai 727 ton, NPK alokasinya 19.200 ton penyaluranya mencspai 18.458 ton dan pupuk organik alokasinya 2.778 ton penyaluran mencapai 2.301 ton," jelasnya.

Kendala Benih Jagung Langka



Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunao berupaya meminta bantuan kepada Kementerian Pertanian (Kementan) soal kelangkaan benih jagung di wilayah kabupaten ini. "Ya, kami sudah laporkan persoalan kelangkaan benih jagung kepada DTPH-Bun Provinsi Lampung dan Kementan RI. Tapi, memang kelangkaan benih jagung terjadi bukan hanya di Lampung Selatan. Namun, seluruh Lampung," ujar Kepala Bidang Tanaman Pangan DTPH-Bun Lamsel Mugiono, Kamis (19/10/2017), ketika dihubungi via ponselnya.
Menurut dia, kelangkaan benih jagung terjadi karena faktor produsen rata-rata tengah ada persoalan internal seperti benih jagung merek NK dan Pioner. Sementara itu, untuk benih jagung merek Bisi 18 kini tengah fokus memenuhi kebutuhan pemerintah sehingga free market menjadi tersendat.
"Itulah informasi yang kami terima dari produsen benih jagung ketika dihubungi oleh pihak DTPH-Bun Lampung Selatan," katanya.
Kendati demikian, Mugiono menyatakan kemungkinan pada pertengahan November 2017 ini, kelangkaan benih jagung dapat teratasi dan mulai stabil lagi ditingkat pedagang sarana pertanian.
"Insya Allah, pada pertengahan November 2017 ini sudah ada lagi benih jagung di tingkat pedagang," ungkapnya. 

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR