BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Ada yang unik di stand Kabupaten Mesuji pada Lampung Fair tahun ini. Anjungan Mesuji menyiapkan beras yang diberi nama "Beras Ampai" hasil budidaya pertanian padi rawa.

Beras Ampai terlihat berwarna cokrlat kemerahan-merahan seperti beras yang tidak layak untuk dikonsumsi masyarakat. Namun kenyataanya beras ini banyak digemari sebagian masyarakat di Mesuji yang tinggal di sekitar rawa. Harganya pun lebih mahal dibanding beras yang ada dipasaran.



Kasi Pertanian pada Dinas Pertanian Kabupaten Mesuji Zenti Yulistina mengatakan Beras Ampai yang dihadirkan anjungan Mesuji merupakan beras yang ditanam di rawa-rawa oleh masyarakat Mesuji. Meski bentuknya seperti beras yang tidak layak dikonsumsi harga beras itu cukup tinggi karena cukup sulit didapatkan di Lampung. "Kalau kita lihat disini berasnya berwarna cokelat kemerahan. Bisa dikatakan hampir sama bentuknya dengan beras tidak layak konsumsi. Tapi ini bukan beras rusak atau jelek, beras ini bentuknya memang seperti itu. Banyak masyarakat kami di Mesuji mengkonsumsi ini. Harganya tinggi dibanding harga beras pasaran, kisarannya harga Rp20 ribu per kilo bahkan bisa lebih," katanya.

Zenti menjelaskan, budidaya padi yang menghasilkan Beras Ampai bukan dibudidayakan di lahan sawah atau di lahan darat seperti kebanyakan petani yang ada di Lampung. Padi yang ditanam untuk menghasilkan Beras Ampai ini di lahan rawa-rawa dengan waktu panennya pun tergolong lama dibandingkan dengan jenis padi di lahan persawahan umumnya. "Bisa dibilang padi yang menghasilkan Beras Ampai paling lama, kisaran panen dari mulai tanam lamanya 6 bulan. Sebagian masyarakat di Mesuji banyak yang mengkonsumsi ini, " kata dia.

Dia mengatakan langkah Pemerintah Kabupaten Mesuji dalam hal mempertahankan Beras Ampai terus ada di masyarakat dengan menciptakan inovasi bagaimana caranya supaya usia panen dari pertanian beras tidak terlalu panjang. "Sebetulnya ada langkah untuk menciptakan supaya waktu panen dari beras ini tidak terlalu panjang, bisa ditanam tidak hanya dirawat, tetapi perlu waktu bertahun-tahun mengkaji hal tersebut," katanya.

Masyarakat yang sudah terbiasa dengan beras ini tidak ingin berganti ke beras yang lain. "Kita ingin beras asli masyarakat Mesuji ini tetap ada dan diunggulkan, karena tidak semua daerah ada beras semacam ini. Dorongan dari Pemda tentunya ada untuk terus mengembangkan dan menjadikan beras ini unggulan Mesuji," katanya.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR