BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Setahun jelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) Serentak tahun 2020 di 8 Kabupaten/Kota dirasa kurang greget trobosan para calon-calon yang ingin maju dalam pesta demokrasi 5 tahunan melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Sosialisasi yang dilakukan oleh tokoh masih pelan-pelan melakukan gerakan dan pendekatan kepada masyarakat.

Padahal seharusnya gaung pesta demokrasi mulai terasa sejak jauh-jauh hari agar masyarakat sebagai pemilih bisa mengetahui segala informasi yang mendalam terhadap sosok yang akan dicalonkan sebagai pemimpin selanjutnya. Bahkan DPP partai politikpun memonitor mengenai popularitasan dan elektabilitas tokoh-tokoh tersebut sebelum mengeluarkan surat keputusan rekomendasi dukungan yang akan didaftarkan menjadi calon di KPU.



Pengamat Politik dan Pemerintahan dari Universitas Lampung, Ariska Warganegara berpendapat selama ini masyarakat selalu disodorkan kampanye yang terlalu kaku dengan menonjolkan gambar/foto kandidat ketimbang apa visi-misi kandidat untuk Kabupaten/Kota 5 tahun kedepan. Ia menilai bahwa saat ini bentuk sosialisasi diri masih jauh dari pendidikan politik.

"Masih sangat normatif sekaligus pragmatis. Model kampanyepun menjadi tidak kreatif, masih fokus pada menjual sosok ketimbang track record dan kinerja," katanya kepada Lampost.co, Minggu (15 September 2019.

Kemudian ia menjelaskan bahwa sosialisasi dalam arti sesungguhnya itu adalah adalah menyampaikan track record kandidat. Kandidat yang sudah punya modal sosial lumayan di masyarakat tentunya punya peluang lebih dibandingkan yang tidak. Ia juga mengatakan tim pemenangan dan para calon harus bisa mengemas popularitasan menjadi elektabilitasan atau keterpilihan karena populer saja belum tentu dipilih.

"Political branding sebenarnya tergantung pada apa tujuan utama kampanye calon termasuk melihat potensi market/pemilih, segmen pemilih mana yang mau di bidding serta bagaimana upaya menyakinkan pemilih," kata lulusan S1 UNILA, S2 Universiti Kebangsaan Malaysia dan Doktor di University of Leeds Inggris ini. 

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

TAGS


KOMENTAR