KALIANDA (Lampost.co)--Rencana dioperasionalkannya kembali jembatan timbang Way Urang, Lampung Selatan, mendapat tanggapan dari sejumlah pengemudi truk.  Para sopir truk menduga jembatan timbang masih tak lepas dari aksi pungli, bahkan tak jarang mereka menerima ancaman jika tidak memberikan upeti.
Itulah keluhan sejumlah sopir truk saat dimintai tanggapan akan beroperasinya kembali jembatan timbang di jalinsum Way Urang,  kecamatan Kalianda dan jembatan timbang Gayam kecamatan Penengahan,  kabupaten Lampung Selatan pada akhir tahun 2018.

“Peraturan muatan barang di jembatan timbang itu yang menjadi celah pungli. Sehingga pungli tidak pernah tuntas diberantas,” kata Boin,  pengemudi truk saat sedang melepas lelah di RM Tiga Saudara jalinsum simpang Gayam, Kecamatan Penengahan,  Lampung Selatan, Senin (2/7/2018).
Ia tidak setuju jembatan timbang kembali beroperasi, sebab bagaimanapun juga tetap membebani sopir maupun pemilik usaha ekapedisi. 
Boin memberi contoh peraturan muatan barang sebuah truk colt diesel jembatan timbang seberat 4 ton, sedangkan truk tersebut mengangkut 7 ton kelapa. “Disatu sisi kita rugi kalau cuma membawa 4 ton kelapa ke Jakarta. Disatu sisi peraturan muatan baran kita over kapasitas. Dari persoalan itu maka terjadi pungli. Bahkan kita bisa bayar 3 kali lipat dari peraturan, “ ujar dia menceritakan pengalamannya saat jembatan beroperasi tahun 2014 lalu. 
Ia menyebutkan cukup rumit pungli di jembatan timbang diberantas,  mengingat pungli itu terjadi karena ada dua kepentingan yang saling bersinggungan.
“Pungli terjadi karena ada yang memberi dan meminta.  Kalau tidak  memberi kami terancam. Terpaksa harus menguras kocek untuk memberi sejumlah uang kepada oknum atau preman agar perjalanan lancar, muatan pun aman,” ujar sopir truk tersebut diamini sejumlah sopir lainnya
Hal senada diungkapkan sopir truk Fuso yang sedang beristirahat di SPBU Simpang Palas,  Lampung Selatan. 
Menurut dia,  pengemudi truk wajib mematuhi aturan batas muatan sesuai kapasitas truk yang dibawanya. Di sisi lain, wajib menerapkan aturan main yang jelas dan tegas dari petugas jembatan timbang.
“Dalam posisi ini pungli sulit ditertibkan. Bahkan keberadaan jembatan timbang akan semakin menguras kocek sopir truk,” ujar Sugi,  sopir truk lintas Lubuk Linggau, Sumsel- Bekasi,  Jabar tersebut.
Terpisah,  Hadi Saputra (38), agen distributor makanan ringan di kecamatan Ketapang juga mengeluhkan aktivitas pungutan liar (pungli) yang dialaminya di jembatan timbang Way Urang empat tahun lalu. 
Menurut dia, pungli yang dilakukan sejumlah oknum petugas LLAJ di Jembatan Timbang Way Urang kala itu  meresahkan dan menjurus pada kasus pemerasan.
Waktu itu truk colt diesel yang dikendarai oleh anak buahnya kena tilang oleh oknum berseragam tersebut. Alasan penilangan itu sendiri dikatakannya dibuat-buat dan terkesan memaksa.
“Petugas tersebut mempertanyakan soal izin bongkar muat, saya minta sopir minta tilang saja. karena aneh, kalau sudah ditangkap terus minta-minta yah saya enggak mau dong,” kata dia menceritakan saat jembatan timbang beroperasi. 
Untuk itu, ia meminta evaluasi lagi pengoperasionalan jembatan timbang. Sebab hampir setiap hari pihaknya mengirimkan barang dengan melewati jembatan timbang tersebut. 
“Lewat kasih kupon bayar, lewat kasih kupon bayar. Ditimbang mah enggak, tidak cuma formalitas,” pungkasnya.  

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR