INGAR-BINGAR Piala Dunia 2018 telah usai. Kini, aktivitas sehari-hari berjalan normal kembali. Para pemain sepak bola dunia itu juga akan kembali ke klub masing-masing.

Sepak bola adalah kehidupan, demikian legenda musik reggae, Bob Marley, pernah berkata di satu kesempatan. Maka, sekilas terlintas pertandingan final Piala Dunia 2018 antara Prancis dan Kroasia yang sudah lewat beberapa hari lalu.



Prancis, secara personal, saya memandangnya tim multietnis dan multikultural. Negara yang terkenal dengan slogan “Liberte (Kebebasan), Egalite (Kesetaraan), dan Fraternite (Persaudaraan)” itu kini tidak hanya dihuni oleh orang berkulit putih, tapi juga dihuni oleh orang-orang berkulit hitam dan merah seperti Arab dan Afrika.

Lihatlah bagaimana saat final Piala Dunia 2018 itu yang mencetak gol justru Paul Pogba dan Kylian Mbappe. Sementara dua gol lainnya karena kelengahan pemain Kroasia, yakni tandukan Mandzukic dan Perisic yang tangannya menyentuh bola.

Itulah kekuatan tim Prancis, yang seolah meniru semboyan Bhinneka Tunggal Ika; berbeda-beda tapi tetap satu jua. Prancis juga memiliki banyak etnis, budaya, dan lainnya yang serupa Indonesia.

Sebelum era Pogba dkk, Prancis dua dekade silam juga punya Zinedine Zidane yang keturunan Aljazair. Belum lagi pemain lainnya seperti Desaily, Karembeu, dan Thuram.

Prancis beruntung memiliki pemain-pemain tersebut. Lain Prancis, lain pula Kroasia. Kroasia, buat saya, adalah gambaran pemain yang digembleng keras oleh sikon perang. Di pecahan negara Yugoslavia itu konflik seolah tiada pernah berakhir. Dalam situasi macam itulah Modric dan kawan-kawan tumbuh dan berkembang.

Sepak bola seolah menjadi tempat perlindungan (sanctuary) bagi Modric dkk. Mereka satu etnis saja dengan beragam ketegangan.

Di situlah sepak bola terasa pas dianalogikan dengan kehidupan. Ada beragam kisah yang bisa dipetik dan dihamparkan. Bukan hanya pertandingannya tok. Namun, kisah di balik permukaan itu yang sangat menyentuh dan menarik.

Memang sepak bola di era kiwari telah menjadi bisnis global dan tidak seintens dahulu dalam mengungkapkan naluri-naluri persaingan primordial, ketegangan kultural, dan historis. Namun, hal-ihwal tersebut selalu melekat pada bola.

Saya ingin mengutip tulisan Romo Sindhu di halaman pertama harian Kompas, Minggu (15/7). Romo menulis, "Peristiwa Bahagia tak mungkin dilupakan. Namun, peristiwa itu hanya tenggelam dalam ingatan apabila tiada kejadian yang mampu membangunkannya pada zaman sekarang."

Prancis bungah. Kroasia juga mencetak sejarah sebagai tim semenjana yang tampil ke final Piala Dunia. Prancis sebagai sang juara telah mengajarkan pentingnya soliditas tim. Hanya kemenangan yang menjadi fokus, bukan bermain indah.

Pelatihnya, Didier Deschamp, yang seorang pragmatis telah menulis sejarah baru. Lantas, bagaimana dengan persepakbolaan kita?

loading...

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR