BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Tewasnya dua orang akibat tertabrak kereta api babaranjang, dikarenakan adanya kelalaian dari para korban.

Menurut Manager Humas PT. Kereta Api Divre IV Tanjungkarang, Sapto Hartoyo, laju kereta api tidak bisa berhenti secara mendadak ketika melakukan pengereman. Butuh jarak sekitar 500 meter dari titik pengereman, kereta akan berhenti.



"Dua kejadian tersebut, mungkin karena warga tidak mendengar sirine, suara atau semboyan 35. Kereta api tak bisa berhenti secara mendadak," ujarnya kepada Lampost.co, Rabu (17/10/2018).

Selain itu, dalam Pasal 181 Undang-Undang No. 23 Tahun 2007 Tentang Perkeretaapian menyebutkan setiap orang dilarang berada di ruang manfaat jalur kereta api; menyeret, menggerakkan, meletakkan, atau memindahkan barang di atas rel atau melintasi jalur kereta api; atau menggunakan jalur kereta api untuk kepentingan lain, selain untuk angkutan kereta api. Kemudian, dalam pasal  199, dinyatakan, Setiap orang yang berada di ruang manfaat jalan kereta api, menyeret barang di atas atau melintasi jalur kereta api tanpa hak, dan menggunakan jalur kereta api untuk kepentingan lain selain untuk angkutan kereta api yang dapat mengganggu perjalanan kereta api sebagaimana dimaksud dalam Pasal 181 Ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 bulan atau denda paling banyak Rp15 miliar.

"Sebenarnya di uu no 23 tahun 2007 ada pasal yang menyebutkan bahwa tidak boleh ada orang yg berada atau jalan diatas rel kereta api kecuali petugas yang dikengkapi safety/alat keselamatan," katanya.

Berita Terkait:

Lagi, Warga Tewas Tertabrak Babaranjang

Sebenarnya pihaknya bersama Dinas Perhubungan, Ditlantas Polda Lampung sudah berulang kali menghimbau masyarakat, agar tidak menggunakan jalur kereta api, sosilaisasi dan penutupan Perlintasan sebidang juga terus dilakukan.

"Tinggal kesadaran masyarakat, karena di undang-undang sudah dijelaskan larangan berjalan diatas rel kereta api," katanya.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR