BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Soal pernyataan saksi sebelumnya yang menyebutkan ada pejabat utama Polda Lampung yang menerima uang dari fee proyek Kabupaten Mesuji menjadi perhatian majelis hakim yang menyidangkan perkara tersebut. Pasalnya Hakim berpandangan perlu menghadirkan Wawan Suhendra dan Najmul Fikri karena dari keduanya akan dicari kebenaran soal pemberian uang Rp200 itu. Hal ini diungkapkan hakim Ketua Novian Saputra dalam persidangan terdakwa Sibron Azis dan Kardinal, Kamis (25/4/2019) malam.

Nopian mengatakan dari konfrontir itu akan diketahui siapa yang berkata sejujurnya. Karena Najmul Fikri yang disebut Wawan Suhendra ikut dalam proses pemberian uang itu ke dua mantan pejabat Polda Lampung.
Kepada kata Najmul Fikri, Novian Saputra sebelumnya telah menegaskan agar dalam memberikan kesaksian adalah yang sebenar-benarnya. Jika memberikan kesaksian palsu, kata Novian Saputra akan dikenai pidana penjara selama 9 tahun. 



Kardinal yang disebut oleh Wawan Suhendra ialah pihak yang menyediakan uang untuk diberikan ke mantan pejabat Polda Lampung itu membantah. Dia menyatakan tidak ada menyiapkan uang seperti kata Wawan Suhendra. "Nggak ada. Tidak ada seperti itu," katanya.

Najmul menyatakan akan menghormati setiap proses hukum yang berlaku. Kata dia, tidak ada pemberian uang atau membahas tentang proyek pada saat pertemuan dengan dua mantan pejabat Polda Lampung.
"Semua akan saya hormati, tidak ada seperti itu, hukum berlaku akan sepenuhnya saya hormati," kata dia.

Sementara jaksa KPK Wawan Yunarwanto menegaskan agenda konfrontir antara Wawan Suhendra dan Najmul Fikri akan digelar. Hanya saja waktunya belum dapat ditentukan. "Masalah waktunya, kapan dikonforntir nanti akan dibahas dahulu," katanya.

loading...

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR