BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Pengamat Hukum Pidana Edy Rifai angkat bicara soal penanganan perkara dugaan penipuan dan penggelapan dengan tersangka Direktur Utama PT Prabu Artha Makmur, Fery Sulistyo alias Alay, yang disidik Polres Tulangbawang.
Menurut Edy, jika memang dalam melengkapi hasil teliti (p19)  berkas perkara tersebut Polisi kesulitan memenuhi permintaan Jaksa Penuntut Umum (JPU), khususnya dalam mencari keberadaan kasir Alay, aparat bisa menyebutkan polisi sudah melakukan penyidikan secara optimal.
"Kalau emang bener-bener sudah mentok, polisi bisa informasikan ke Jaksa sudah maksimal, dan nanti Jaksa yang menilai. Saya pernah jadi saksi ahli kasus seperti ini," ujarnya kepada Lampost.co, Selasa (24/7/2018).
Jika polisi sudah maksimal, Jaksa bisa mengambil tindakan, apakah mengambil alih pencarian saksi tersebut karena polisi sudah maksimal berusaha, atau menghentikan perkara tersebut karena memang tak cukup bukti.
"Jaksa juga bisa meriksa, tapi memang bukti harus diperkuat, karena nanti Jaksa yang bakal bawa perkara itu ke persidangan," katanya.
Menurut Edi, mandeknya perkara dengan kasus seperti ini, sudah hal biasa, bahkan puluhan ribu kasus sulit dilengkapi berkas perkaranya berdasarkan permintaan Jaksa.  Kelemahannya, karena proses bolak balik berkas yang disebut pra penuntutan tersebut, memang diatur dalam KUHAP demi kepentingan penyidikan.
"Makanya di Rancangan KUHAP yang baru, nanti ditingkat sidik kepolisian sampe tetapin tersangka Jaksa sudah dilibatkan, kalau KUHP yang sekarang kan enggak," katanya.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR