SEBETULNYA aneh kalau Rizal Ramli menyatakan terlalu ambisius target pemerintahan Jokowi-JK membangun pembangkit listrik 35 ribu megawatt (mw) dalam lima tahun, apalagi sampai menantang Wakil Presiden M Jusuf Kalla untuk debat publik mengenai hal itu. Juga protesnya kepada Garuda membeli Airbus A-350.

Sebab, seusai dilantik sebagai Menteri Koordinator Kemaritiman—yang juga membawahkan sumber daya alam dan pariwisata—kepada wartawan Rizal Ramli justru mewacanakan untuk membuat lompatan dalam masa krisis. Target membangun pembangkit 35 ribu mw dan memiliki Airbus A-350 itu jelas sejenis lompatan seperti yang dia wacanakan itu.



Karena itu, bisa jadi pembangunan pembangkit 35 ribu mw dianggapnya terlalu ambisius karena tanggung jawab untuk mewujudkan itu berada di pundaknya. Untuk membangun pembangkit listrik 35 ribu mw dalam lima tahun memang amat berat. Bandingkan kalau PLTA Asahan yang besar saja cuma menghasilkan 500 mw, berarti untuk membangun 35 ribu mw sama dengan menyelesaikan 70 proyek seukuran PLTA Asahan dalam 5 tahun!

Target 35 ribu mw itu bisa dianggap ambisius juga karena selama 70 tahun kita merdeka, baru mampu membangun 45 ribu mw sehingga masalah kurangnya daya listrik ini menjadi kendala dalam proses industrialisasi. Ini pula yang menjadi penyebab kenapa sampai “hari gini” kita masih jadi pengekspor komoditas—bahan mentah—tanpa nilai tambah pemprosesan. Padahal, negara tetangga terdekat saja sudah mengekspor hasil industri hilir produk-produk olahan komoditas hasil sumber daya alamnya.

Untuk itu, Indonesia memang harus membuat lompatan lewat melipatgandakan pembangkit listriknya. Dengan target itu, lima tahun ke depan kita akan punya 80 ribu mw. Pasti jauh lebih baik dari sekarang. Tapi dibanding dengan negara lain yang sudah agak maju industrinya, seperti Tiongkok yang pada 2013 punya lebih 1 juta mw, tepatnya 1.073 gigawatt (gw), capaian mimpi kita itu pun masih terlalu kecil. Artinya, kita bahkan butuh impian yang jauh lebih besar lagi untuk memajukan kesejahteraan umum bagi negeri berpenduduk terbanyak ke empat di dunia ini. Untuk itu, menempatkan Rizal Ramli yang pandangannya futuristik di cakrawala baru kemaritiman dan sumber daya alam itu diharapkan tepat.

Betapa, andai impian Jokowi-JK bisa terwujud dalam lima tahun ini, semisal di Lampung jalan tolnya sudah tembus Bakauheni-Mesuji melintasi kawasan Bandar Lampung dan Bandarjaya, gambaran kemajuan Indonesia sudah tampak agak nyata. ***

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR