KETIKA RA Kern mengunjungi wilayah Abung di bagian utara, 16 Maret 1923, ia melakukan presentasi mengenai bangsa Abung di depan Indisch Genootschap. Di konteks ini, ia membuat keterangan mengenai perburuan kepala dan pengurbanan darah yang sebagian besarnya, sebagaimana yang hingga kini diyakini adalah informasi dari du Bois.

Di sini, Kern membuat kesalahan. Sebagaimana semua reporter yang lainnya, selalu hanya berbicara tentang orang Lampung. Oleh karena itu, selalu mustahil untuk menempatkan keterangannya secara jelas dan menganalisis penelitian yang pasti.



Kern menulis antara lain di wilayah selatan luar dari Lampung, singgasana perburuan kepala dan pengurbanan darah manusia sebagai penebusan dosa untuk kematian telah ditekan akibat pengaruh kesultanan Jawa Barat, Bantam, sudah sejak lama. Di sini, seharusnya di tempat penyembelihan tawanan atau budak awalnya dilakukan sembunyi-sembunyi, kemudian secara terbuka.

Dengan laporan ini, lalu penduduk diganti kerugian melalui pembunuhan kampung yang bersangkutan. Dalam hal itu, Kern melampaui batas tujuan jika ia menghubungkan singgasana pengganti pengurbanan darah ini dengan penduduk pesisir yang berbalik ke Bantam.

Populasi Paminggir itu tidak pernah mengetahui singgasana demikian. Sebaliknya, penduduk dataran Semaka selalu menderita atas tradisi perburuan kepala oleh kelompok Abung dulu di pegunungan selatan, sebagaimana yang masih digambarkan secara detail.

Kern adalah salah satu reporter yang melakukan kesalahan, memandang orang Lampung sebagai kesatuan kelompok suku bangsa. Kenyataannya, singgasana pengurbanan darah tersebut mula-mula tidak diperlukan lagi oleh suku-suku Abung, kelompok besar Abung Sewu Mego.

Setidaknya, Friedrich W Funke mengetahui mengenai pengurbanan darah pada kelompok Abung selatan itu hanya dari tradisi darah di suku-suku Abung wilayah timur laut kelompok Mego Pak yang ditemui awal abad ke-19. Dari waktu tersebut, didapatkan beberapa berita autentik yang menginformasikan bahwa hingga abad ke-19 tradisi masih dilakukan begitu jelas membuktikan eksistensi konsep lama berhubungan erat dengan perburuan kepala.

Catatan dari JA du Bois (penduduk Belanda yang tinggal di Lampung pada 1819—1833), menuliskan informasi suku dan lokasi hampir mengenai orang Abung dari tiga kelompok suku besar, yaitu Abung Sewu Mego, Mego Pak, Buwei Lima.

Di tempat ini, catatan du Bois mengenai adat kebiasaan penduduk di rute jalan daerah Tulangbawang dan Way Abung—Way Rarem yang digunakan setelah dilakukannya pembunuhan. Informasi mengenai domisili dan keanggotaan suku Buwei dari orang-orang bersangkutan tersebut telah pasti bahwasa dalam hal ini orang Abung. Du Bois sendiri mengamati orang-orang itu sebagai orang Abung.

Sangat penting karena laporan ini hingga sekarang merupakan satu-satunya yang termasuk penduduk Tulangbawang tengah ke suku Abung. Apabila ia juga keliru atas keturunan kelompok masyarakat ini, pemikiran dasar tersebut pastinya benar bagaimana akan masih dijelaskan nanti secara detail.

BERITA LAINNYA


EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR