BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Badan Narkotika Nasional Provinsi Lampung (BNNP) kembali mengungkap jaringan sabu asal Aceh, dan berhasil mengamankan 6 kg sabu, Rabu (25/7) sore di Kampung Gotong Royong, Kecamatan Gunung Sugih, Lampung Tengah.  Kepala BNNP Lampung Brigjenpol Tagam Sinaga, Kamis (26/7/2018),  mengatakan total ada 5 pelaku yang ditangkap, dan dua pelaku terpaksa tewas karena melawan ketika hendak dibekuk. 
Dua pelaku yang tewas yakni,  Mainur Zainal (45)  bertugas sebagai kurir, warga  Dusun TImum Syah Krueng Baro Babah Krueng Aceh, dan Toni Suryadi (32) warga desa Kejadian, Tegineneng, Pesawaran, yang berperan menerima barang. Kemudian, tiga pelaku lainnya yakni Fajar Hidayat (26), warga Haduyang, Tegineneng, Pesawaran, selaku kurir, dan Munzier Buche (44) Bina Harapan, Arcamanik, Bandung, Jawa Barat, selaku penerima, serta  Ahmad Afan  (45) warga Aceh selaku pengendali barang haram tersebut dari Balik LP Kelas IA Bandar Lampung, dan divonis seumur Hidup sejak tahun 2014.
"Jadi dua yang meninggal, yang satu kita berikan tembakan peringatan dia malah melawan, terus kita coba tembak kakinya malah jongkok, jadi kena kepala yang satunya lagi itu mau melawan petugas terpaksa kita tembak, dan kena dadanya, di bawah Ke RS Bhayangkara, namun enggak selamat, dua yang lain juga mau kabur, kita terpaksa tembak di kakinya," ujarnya kepada Lampost.co, Kamis (26/7/2018).
Tagam menambahkan, tim Brantas mendapatkan informasi bahwa, sebuah mobil Nissan Teana B 1110 XE yang berasal dari Aceh membawa sabu seberat 6kg, yang disembunyikan di ban serep oleh Munzir dan Mainur. Mereka kemudian, sudah berkoordinasi untuk bertemu di sebuah tambal ban di Desa Gotong Royong, Tegineneng dengan Toni dan Fajar yang akan menerima barang haram tersebut.
Toni dan Fajar yang datang dengan Grand Livina BE 2919 YK kemudian hendak menerima ban serep dari Munzir dan Mainur, kemudian pelaku dibekuk aparat dan sempat ada perlawanan.
"Pelaku merupakan jaringan ke 9 yang diungkap BNNP Lampung. Butuh waktu dua Minggu untuk melacak mereka, dan modus mereka ini baru, pakai ban serep," kata Mantan Kapolrestabes Medan itu.
Dari hasil pengembangan ternyata barang haram tersebut dikendalikan oleh Ahmad Afan. Kemudian BNNP berkoordinasi dengan kepala LP Kelas IA Rajabasa Sujonggo. Sujonggo Sendiri berkomitmen dan kooperatif dengan petugas, dan membantu mencari Afan yang ada di blok A3, serta membantu mengamankan ponsel yang digunakan oleh Afan.
"Kami juga terimakasih sama Kepala LP Rajabasa, mereka kooperatif, menjalankan MoU dan bisa bantu, enggak kayak di LP Kalianda, bahkan salah satu staf LP Rajabasa (Yudi) sempat saling berebut HP dengan Afan karena mau dirusak, padahal itu barang bukti yang bakal kita ajukan ke persidangan," katanya.
Menurut Tagam, sabu seberat 6 kg tersebut ditaksir mencapai Rp9 miliar jika bisa diedarkan. Berdasarkan angka prevalensi, warga Lampung dalam 1 hari bisa mengkonsumsi sabu sebanyak 10 KG, dan setidaknya sabu seberat 6 kg tersebut bisa menyelamatkan 30.000 orang.
"Barang ini mau diedarkan di Bandar Lampung, dan pemasok masih kita Lidik, informasi di sudah dua kali meloloskan barang haram tersebut," katanya.  
Sementara Ahmad Afan Napi yang dipidana seumur Hidup karena hendak membawa sabu dari Aceh pada tahun 2014 tersebut, tak banyak bicara, namun dia membenarkan menjadi pengendali barang haram tersebut.

BNNP Lampung mengamankan barang bukti berupa narkotika jenis sabu 6  kilogram dari 6 paket yang dibungkus plastik hitam, mobil Nissan Teana B 1110 XE, mobil Grand Livina BE 2919 YK, 7 buah HP, dan beberapa dompet dari para pelaku.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR