ADA beberapa tradisi dalam adat Lampung tumbai yang saat ini masih dipertahankan, salah satunya tradisi adat Lampung dalam proses kelahiran. Walaupun di berbagai tempat tertentu, khususnya di kota besar di Lampung, saat ini tradisi tersebut sudah mulai dilupakan dan ditinggalkan oleh generasi sekarang, tetapi pada daerah atau tempat-tempat tertentu masih tetap dilestarikan karena dalam setiap ritual tradisi yang dilakukan apabila diteliti dan dipelajari secara mendalam terdapat nilai-nilai luhur kearifan lokal yang dapat diambil hikmahnya, seperti nilai kebersamaan, kekeluargaan, rasa syukur pada yang Mahakuasa, berbagi kepada sesama, menjaga hubungan baik, menjaga nama baik keluarga, taat pada aturan, serta menjaga keberlangsungan lingkungan atau kelestarian alam.
Tradisi Lampung tumbai berupa adat istiadat yang turun-temurun dilakukan dari generasi ke generasi selama puluhan bahkan ratusan tahun ini apabila tidak digali, diteliti, dan tetap dilestarikan bukan tidak mungkin akan hilang ditelan zaman, tergerus oleh arus globalisasi karena anak-anak muda Lampung tidak peduli karena menganggap bahwa budaya adalah perilaku kuno yang sudah ketinggalan zaman sehingga tidak layak untuk dipertahankan lagi.
Adat adalah kebiasaan yang tidak tertulis sehingga dalam perkembangannya akan terus mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan zaman, tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya yang merupakan warisan leluhur nenek moyang harus tetap digali dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk kepribadian bangsa untuk membendung budaya luar yang individualistis, instan, konsumtif, terlalu bebas, dan menilai segala sesuatunya dengan uang (materialistis). Adapun tradisi adat Lampung dalam proses kelahiran yang saat ini masih tetap dipertahankan, seperti Silih darah, Nabor Sagun, Ruyang ruyang, dan Ngelama.

Silih Darah



Silih darah berasal dari kata silih yang artinya mengganti dan darah berarti darah, jadi silih darah secara bahasa mempunyai arti mengganti darah. Mengganti darah maksudnya memiliki dua arti, yaitu mengganti darah sang bayi setelah sekian lama akhirnya terlahir ke dunia, menebus segala kekhawatiran orang tuanya dengan rasa syukur atas kelahiran bayi dengan sehat walafiat dan selamat. Kedua, makna mengganti darah sang ibu dengan tujuan magis agar darah kotor yang terbuang (darah yang keluar dari tubuh sang ibu) sewaktu melahirkan dapat berganti kembali dengan darah baru yang bersih, sehingga sang ibu diharapkan cepat dapat sembuh seperti sedia kala.
Silih darah adalah proses menyembelih hewan segera setelah bayi lahir, artinya tidak lama atau paling lama sehari setelah kelahiran sang bayi, lebih cepat dilakukan lebih baik. Hewan yang disembelih untuk silih darah biasanya adalah ayam, tidak pula ditentukan apakah harus ayam jantan atau betina ataupun batasan umur dari ayam tersebut, yang jelas silih darah secara simbol berarti untuk mengganti dan sebagai bentuk tanda syukur atas kelahiran seorang bayi di tengah-tengah keluarga.
Selain itu, silih darah juga bertujuan sebagai bentuk sedekah tanda syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa dengan harapan agar si bayi kelak menjadi orang yang murah hati, suka memberi, diberikan umur panjang, murah rezeki, serta kelak menjadi anak yang berguna bagi masyarakat, bangsa, dan agama.
Berbeda dengan akikah, yaitu menyembelih dua ekor kambing untuk bayi laki-laki dan satu untuk bayi perempuan, silih darah tidak mensyaratkan untuk menyembelih kambing. Namun, cukup hanya dengan menyembelih satu ekor ayam kampung sudah cukup sebagai tanda tebusan rasa syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa.
Ayam yang telah dipotong dan dimasak tersebut kemudian dimakan secara bersama-sama dengan mengundang saudara, tokoh-tokoh adat dan tetangga di sekitar rumah. Makan-makan biasanya dilakukan dengan cara nyetar atau makan secara bersama-sama lesehan memanjang dengan lauk-pauk tradisonal, seperti seruit dan pindang.
Silih darah sendiri saat ini sudah mulai dilupakan dan ditinggalkan oleh sebagian masyarakat Lampung, terutama yang tinggal di kota-kota besar, hanya di tempat-tempat tertentu saja yang masih menjalankan tradisi ini, menjaganya dan melestarikannya sebagai rasa syukur atas karunia Tuhan serta sebagai bentuk menjaga tradisi warisan nenek moyang yang sudah ratusan tahun diwariskan turun-temurun.
Secara filosofis tidak banyak pesan yang dapat tersiratkan dari proses silih darah ini selain menunjukkan sikap sukacita dan berbagi kebahagiaan keluarga sehingga ditunjukkan dengan mengundang sanak famili dan keluarga untuk makan bersama-sama, berkumpul. Nengah nyampor bersama keluarga karena telah mendapatkan keluarga baru dengan sehat dan selamat, sehingga di dalamnya terkandung perilaku kebersamaan dan kekeluargaan, gotong royong, fungsi sosial, dan mendekatkan hubungan baik antara manusia dengan manusia maupun antara manusia dan Tuhan pencipta alam semesta.

loading...

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR