MENJALIN silaturahmi adalah salah satu amalan yang mulia dan kewajiban dalam agama. Islam adalah agama yang menganjurkan umatnya untuk senantiasa berbuat baik. Amalan dalam Islam tidak hanya berupa ibadah seperti salat, puasa, dan zakat, melainkan juga tersenyum dan menjalin silaturahmi. 

Menjalin silaturahmi adalah salah cara mewujudkan ukhuwah islamiah dan dapat dilakukan dengan cara mengunjungi sanak keluarga dan saudara. Banyak dalam ayat Alquran dan hadis yang menyebutkan tentang menyambung tali silaturahmi serta menjelaskan berbagai keutamaannya. 



Seperti dijelaskan dalam Alquran Surat An-Nisa Ayat 36, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan, berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” 

Namun, jangan sampai kita salah kaprah memaknai silaturahmi atau malah memanfaatkan dalil-dalil tentang silaturahmi pada perbuatan yang bukan silaturahmi. Misalnya menggunakan dalih silaturahmi untuk mengajak orang mendatangi tempat atau acara yang banyak mudaratnya, yang disamarkan dengan nama silaturahmi yang merupakan kebaikan. 

Masih banyak contoh lain tentang salah dalam memaknai silaturahmi. Untuk itu, Allah telah mengingatkan kita melalui firman-Nya yang artinya, “Dan, janganlah kalian mencampur-adukkan kebenaran dengan kebatilan.” (QS Al-Baqarah: 42). 

Yang jelas, melalui silaturahmi, kita akan mendapatkan berbagai manfaat seperti teman, perhatian, dan kasih sayang dari sesama. Hal ini berkaitan dengan ikatan dan hubungan, di antaranya hubungan emosional, sosial, ekonomi, dan hubungan kemanusiaan lainnya. Semakin banyak kita menjalin silaturahmi, akan semakin banyak yang membantu ketika kita tertimpa musibah. 

Maka, mencapai kebutuhan tersebut adalah fitrah untuk selalu berusaha berbuat baik terhadap sesama. Islam sangat memahami hal tersebut, sehingga silaturahmi harus dilaksanakan dengan baik. Selain memerintah kita untuk menjalin silaturahmi, Allah juga menjelaskan apa akibatnya jika kita memutus silaturahmi. Dalam Islam jelas kita diperingatkan untuk tidak memutuskannya. Allah memperingatkan orang yang memutuskannya dengan laknat dan azab. 

Seperti dalam firman-Nya, “Maka, apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka, dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.” (QS Muhammad: 22—23). 

Maka, sudah jelas sangat rugi bagi orang-orang yang memutuskan silaturahmi. Untuk itu, marilah kita introspeksi diri. Mari kita kembali menguatkan ikatan persaudaraan dengan bersilaturahmi kepada kerabat dan saudara agar kita tidak termasuk ke dalam golongan orang yang merugi.  

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR