BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Seusai menjalani sidang vonis mantan Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Pesawaran Maddwami pada kasus korupsi pengadaan kapal bersama tiga terpidana lainnya yakni Abu Cholifah, Chandra Hadi dan Direktur CV. RR Jaya Sri Andarwati, menjadi saksi dalam persidangan kasus yang sama atas nama terdakwa Ponirin selaku ketua tim PHO dalam pengerjaan proyek itu.

Dalam kesaksianya Sri Andarwati mengungkapkan adanya permintaan uang usai perusahaannya menggarap pengadaan kapal di Dinas Perhubungan (Dishub) tahun 2016 yang menjeratnya ke dalam penjara hingga 2,6 tahun tersebut.



Dalam sidang kesaksiannya di ruang Garuda Pengadilan Tipikor Tanjungkarang, Jumat (24/8/2018) terpidana Sri mengatakan bahwa sepekan usai pengejaran kapal itu rampung. Dirinya dihubungi oleh Alimudin yang merupakan sekretaris PPTK dalam perkara tersebut. Amanudin meminta sumbangan untuk acara tahun baru.

" Dia Amanudin telepon saya. Katanya minta sumbangan untuk acara tahun baru," ujar Sri dalam kesaksiannya.

Atas permintaan uang tersebut lalu dia memerintahkan Nyai stafnya untuk menyerahkan uang Rp15 juta ke Amanudin. Mendengar ucapan itu Hakim Syamsudin kemudian menanyakan alasan ia memberikan uang itu. Lantas Sri mengatakan dirinya mau menyerahkan uang itu karena Amanudin ia ketahui tidak ikut dalam proyek pengerjaan tersebut.

"Saya berpikir, dia kan tidak ada sangkut pautnya dengan kontrak. Nama dia tidak ada dan terlepas dari pekerjaan ini. Saya tidak kasih dengan mereka yang ikut mengerjakan kontrak. Saya pikir kan begitu," katanya.

Dari penuturan Nyai, Sri mengatakan bahwa uang itu di letakan di dalam amplop dan kemudian diserahkan di sebuah rumah makan. "Saya tidak tahu uang itu kemudian untuk siapa dan diserahkan ke mana," katanya.

Hakim Ketua Syamsudin kemudian mencecarnya, menurut Syamsudin dalam kesaksiannya di sidang sebelumnya, Amanudin mengaku hanya menerima uang Rp1 juta. "Jadi yang mana yang benar ini. Coba Jaksa nanti konfrontir ya, saksi Nyai dan Amanudin. Kita ingin tahu siapa yang menerima uang itu sebenarnya," ujar Hakim Ketua.

Dalam sidang kesaksianya Sri juga mengaku usai kontrak selesai dikerjakan. Maddawami kerap menelepon dirinya. Bahkan, kata dia, sejak telepon tak di gubris, Maddawami datang mencari alamat rumahnya.

"Kadis (Maddawami) selalu menelepon saya. Minta uang sebagai ucapan terimakasih. Bahkan dia datang ke rumah saya. Padahal saya sudah kasih ke Amanudin. Saya memberikan sumbangan sebagai tahun baruan," kata Sri.

Mendengar perkataan Sri, Maddawami yang juga duduk di kursi pesakitan berang. Ia langsung memotong pembicaraan Sri. "Bohong yang mulia, itu bohong semua," geramnya.

Bahkan Sri juga mengatakan Ponirin yang merupakan ketua tim PHO pernah datang bersama Maddawami meninjau progres pembuatan kapal dimana saat itu progres baru berjalan 30 persen. Hakim kemudian kembali bertanya apakah Ponirin juga mengecek kelengkapan ketika saat penandatangan serah terima kontrak. "Ya, dia datang semua di cek, dia bawa RAB semua item dilihat satu persatu," ujarnya.

Namun kata Sri, dalam pengecekan yang dilakukan oleh tim PHO, Ponirin yang merupakan ketua tim tidak memberikan catatan terkait kelengkapan kapal. Sri juga mengakui dirinya yang menjadi direktur di perusahaan itu tidak memiliki keahlian dalam bidang perkapalan.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR