KASUS perundungan di Indonesia bukanlah hal baru. Sekolah menjadi lokasi paling sering terjadi perundungan. Seperti fenomena gunung es, kasus perundungan yang terungkap ke publik hanyalah sebagian kecil dari berbagai perilaku perundungan yang terjadi.

Di tengah hangatnya suhu politik di Tanah Air, negara kita dihebohkan dengan kasus perundungan yang dialami Audrey, siswa SMP di Pontianak, Kalimantan Barat, oleh 12 pelaku yang masih SMA. Kasus itu membuka mata bahwa perundungan ada di sekitar kita, terutama pada anak-anak. Para orang tua pun banyak yang khawatir, bukan hanya takut anaknya menjadi korban, melainkan juga menjadi pelaku.



Ada banyak jenis perundungan yang dapat dialami oleh anak-anak maupun orang dewasa, mulai dari perundungan verbal, sosial, cyber bullying melalui internet, hingga perundungan fisik dan seksual. Data United Nation International Children’s Emergency Fund (UNICEF) pada 2016, Indonesia menempati peringkat pertama soal kekerasan pada anak.

Adapun untuk kekerasan di sekolah, Indonesia menempati posisi pertama dengan 84%. Diikuti Vietnam dan Nepal yang sama-sama mencatat 79%, disusul Kamboja (73%), dan Pakistan (43%). Miris lagi melihat data hasil survei Kementerian Sosial yang menunjukkan 84% anak usia 12—17 tahun pernah menjadi korban perundungan.

Perundungan seakan sudah menjadi tradisi, khususnya di sekolah. Perilaku senior ke junior, perbedaan status sosial, bahkan bentuk fisik menjadi pemicu terjadinya perundungan. Namun, hal itu tentunya tidak bisa dimaklumi. Aksi perundungan ini sudah semestinya dihentikan.

Perkara perundungan, terutama di sekolah, memang sulit dihentikan. Rantai perundungan itu terus terbentuk karena berlangsung turun-temurun di sekolah. Padahal, negara telah membuat UU No.35/2014 yang merupakan perubahan UU No.23/2002 tentang Perlindungan Anak. UU tersebut mengatur hukuman bagi pelaku intimidasi terhadap anak. Bukan hanya itu, pelaku perundungan di media sosial pun bisa dijerat dengan UU ITE.

Amat penting pencegahan tindakan perundungan itu dilakukan mulai dari lingkup kecil yakni keluarga. Pola pengasuhan anak yang tepat amat penting untuk mencegah anak-anak menjadi pelaku dan korban perundungan. Menanamkan rasa percaya diri, pengendalian emosi, dan pertahanan fisik perlu diajarkan pada anak.

Pendekatan keluarga serta pengawasan pergaulan anak termasuk di media sosial akan mempermudah mendeteksi anak-anak pelaku dan juga yang menjadi korban perundungan. Perlu diingat dalam tindakan perundungan, pelaku dan korban adalah sama-sama korban. Mereka anak-anak yang menjadi tumpuan harapan di masa depan. Penanganan terhadap pelaku maupun korban haruslah tepat.

Di sekolah dibutuhkan pendidikan karakter dan menjaga lingkungan damai untuk mencegah perundungan. Para pendidik mesti awas dan mengenali ciri anak-anak pelaku perundungan. Menerapkan sekolah sebagai lembaga yang ramah anak juga bisa menjadi tindakan preventif. Selain itu perlu adanya aturan-aturan khusus dan memperbanyak kegiatan berbentuk kerja sama tim untuk mencegah munculnya kesenjangan antaranak. Penerapan hukuman bagi pelaku perundungan juga harus sesuai, tetapi memberikan efek jera. ***

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR