LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 9 June
1686
LAMPUNG POST | SETITIK AIR:  Tiga Kurma
Abdul Gafur, Wartawan Lampung Post

SETITIK AIR: Tiga Kurma

KETIKA Ramadan dan Idulfitri masih “jauh ke beduk” sebagian kita justru telah sibuk mengumpulkan belanjaan dapur agar siap tempur saat sahur dan berbuka. Itu mengapa demand terhadap bahan pokok melonjak sedemikian rupa jelang bulan puasa.
Postulat itu menjelaskan mengapa dua minggu jelang Ramadan, di tingkat pedagang, kenaikan harga sembako mulai terasa. Di Pasar Natar, Lampung Selatan, misalnya, beberapa harga komoditas mulai naik. Cabai merah dari Rp25 ribu menjadi Rp40 ribu/kg.
Kemudian, harga gula pasir pun naik dari Rp12 ribu per kg menjadi Rp12.500 per kg. Harga telur juga perlahan naik, dari Rp18 ribu per kg menjadi Rp20.500 per kg. Memasuki Ramadan, harga-harga tersebut terus terkerek naik.
Para ibu yang berbelanja ke pasar mulai merasakan dompet mereka tak lagi setebal biasanya, padahal jatah uang belanja bulanan mereka tak berkurang. Begitulah, Ramadan menjadi paradoks yang terus-menerus berulang.
Dikatakan paradoks karena aktivitas konsumtif justru “menggila” di tengah taman religius Ramadan. Paradoks itu berbuah inflasi “R” (Ramadan) yang saban tahun terjadi dan pemerintah melulu pontang-panting menghadapinya.
Data statistik Kementerian Keuangan mencerminkan adanya paradoks itu. Data BPS pun merefleksikan hal serupa. Pendek kata, inflasi R hingga Idulfitri menjadi fenomena tak terhindarkan di Indonesia saat Ramadan tiba.
Berbagai pakar ekonomi menilai inflasi R masuk kategori demand pull inflation, yaitu inflasi yang berpangkal dari lonjakan permintaan di kurun waktu tertentu tanpa diiringi peningkatan penawaran bahan pangan memadai.
Inflasi saat Ramadan murni akibat “bergoyangnya” keseimbangan pasar. Sayangnya, menghadapi inflasi R kita hanya bergulat pada pendekatan ekonomi semata, utamanya menjaga distribusi lancar agar sisi suplai tetap aman terkendali.
Sepatutnya pendekatan religius juga ditekankan. Amat jelas bergoyangnya keseimbangan pasar saat Ramadan terjadi lantaran budaya konsumsi kita yang justru bertambah bahkan berlebihan, bukan malah berkurang saat Ramadan.
Padahal, baginda Rasulullah saw menyunahkan berbuka dengan tiga buah kurma saja sudah cukup. Paling tidak pesan ini menyiratkan setelah menahan nafsu sehari penuh kita pun harus tetap menahan tali kekang saat azan magrib berkumandang. Tabik Pun. n

BAGIKAN


loading...

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv