ZAMAN digital memberi kemudahan untuk saling bertukar informasi. Bahkan dengan fasilitas digital itu, seolah data melewati dimensi ruang dan waktu dalam berkomunikasi. Namun, kemudahan itu akhirnya menghapus etika komunikasi, salah satunya hoaks alias bohong.
Dalam Islam, hoaks itu menjadi penanda segala keburukan. Dalam teori kebohongan, dusta akan menjadi alasan manusia untuk melakukan dusta berikutnya. Salah satu alasan yang membenarkan teori itu adalah hadis Rasulullah saw yang diriwayatkan Tirmidzi.
Dalam potongan hadis yang diriwayatkan Tirmidzi nomor 1.895 itu, Rasulullah bersabda “Jika seorang hamba berdusta, maka malaikat akan menjauh darinya sejauh satu mil karena bau busuk yang keluar darinya.... Rasulullah tidak menyebut malaikat mana yang tidak suka, berarti semua malaikat tidak suka dengan bau mulut pendusta, termasuk Mikail yang mendapat tugas menyampaikan rezeki.
Kemudian rezeki itu adalah anugerah Sang Pencipta dengan segala bentuk kebutuhan hidup manusia. Berarti setiap helaan napas dan kedipan matanya adalah rezeki. Namun tidak berarti dengan dustanya itu manusia tidak akan mendapat rezeki yang disampaikan dari Allah karena malaikat enggan mendekatinya. Jadi rezeki itu dari siapa?
Sebuah cerita dari seorang alim, ada sebuah pertemuan antara Malaikat Mikail dan Iblis. Saat itu Mikail merasa ragu menyampaikan rezeki seorang pendusta, maka terjadi pembicaraan antar Mikail dan Iblis. "Hai Mikail, mengapa Anda ragu menyampaikan rezeki yang menjadi tugas Anda?" tanya Iblis. Maka Sang Malaikat pun menjawab "Pemilik rezeki adalah pendusta, sementara aku tidak suka dengan bau mulut pendusta."
Dengan senangnya iblis pun meminta agar dirinya yang menyampaikan rezeki itu. Maka diambilnya rezeki pendusta itu dan disampaikannya.
Memang itu adalah rezekinya. Namun karena iblis yang menyampaikannya dan iblis merasa itu bukan tugasnya. Iblis pun meminta upah atas tugas tambahan itu. Iblis pun membisiki pendusta: "Ayo berdustalah terus, rezeki mu akan lancar sampai". Ini alasan mengapa dustanya berkesinambungan, hingga dia tobat.
Hoaks sangatlah diharamkan oleh Islam, baik berita hoaks maupun janji bohong. Sebab, akan menjadi alasan orang berbuat hoaks lainnya. Meminjam ujaran Kacung: "Janji sebudi (janji bohong) politikus akan membuat sebudi lanjutan yang dilakukannya. Hingga kemudian azabnya datang".

Astaghfirullahulazim.....

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR