LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 14 July
1640

Tags

LAMPUNG POST | SETITIK AIR: Adopsi Anak
Dian Wahyu Kusuma, wartawan Lampung Post. Lampost.co

SETITIK AIR: Adopsi Anak

FILM Lion menceritakan tentang kisah nyata bagaimana warga Australia mengadopsi seorang anak lelaki bernama Sharoo dari India. Orang tua angkatnya menyayangi anak tersebut. Pada pertengahan episode, Sharoo yang telah dewasa berdiskusi serius dengan ibu angkatnya, bagaimana mulanya ia mau membesarkan anak miskin dari belahan bumi lain.
Pikiran Saroo tentang ibu angkatnya ternyata salah, ia bukan tidak bisa hamil, rahimnya normal. Sang ibu kaya Australia ini rupanya mengatakan ia sengaja tidak ingin menglahirkan seorang anak. Ia memilih mengadopsi anak dari warga miskin supaya anak-anak lain bisa menikmati hidup, bersekolah, makan enak, punya kendaraan pribadi, dan berpendidikan tinggi.
Saroo meminta maaf atas asumsinya yang salah yang telah terverifikasi langsung itu. Saroo kemudian meminta izin kepada orang tua angkatnya untuk mencari ibunya di India melalui Google Map. Ia mencoba mengingat memori masa kecilnya dan pencariannya berhasil.
Ia terbang ke India dan menyusuri desa kecil di bagian India. Rupanya rumah kecil tempat ibunya tinggal sudah menjadi kandang ternak. Lalu kepala desa bertemu dengan Sharoo dan menunjukkan ibunya yang mulai menua, adegan sedih tampaknya mulai menunjukkan klimaksnya di film Lion tersebut.
Tentang anak ini, saya mendapat kisah dari seseorang yang belum ingin mempunyai anak, alasannya pekerjaan belum settle. Mempunyai anak rasanya memang banyak kebutuhan yang akan dipenuhi kebutuhannya.  Namun, kalau kita percaya tentang firman Rabb, “Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki.” (Al Jumu’ah: 11)
Mendapat rahmat seorang anak itu sudah diatur rezekinya. “Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka.” (QS Al An’am: 151)
Kembali ke kisah Lion tadi, warga Australia ini rasanya punya baik hati dengan mengadopsi anak, mungkin pertimbangannya laju pertumbuhan penduduk di dunia yang makin pesatnya. Bayangkan penduduk yang lahir tiap menitnya perlu mendapat asupan makan, sedangkan ibu tersebut mencoba menahan laju pertumbuhan penduduk melalui keluarga kecilnya dengan mengadopsi anak.
Anak-anak sebagai titipan ini bisa menjadi nikmat juga ujian. Menjadi nikmat bila orang tua senang dengan capaian anak di waktu dewasa. Namun, pernahkan kita melihat orang tuanya alim sedangkan berlawanan perilaku anak atau begitu pula sebaliknya?. Pasti ada saja kejadian di alam nyata ini.
Di sisi lain, tentang mendidik anak wanita lebih sulit dari laki-laki. Berbagai reward dijanjikan dalam beberapa riwayat hadis. “Barang siapa yang mengayomi dua anak perempuan hingga dewasa, maka ia akan datang pada hari kiamat bersamaku”. Anas bin Malik berkata: Nabi menggabungkan jari-jari jemari beliau. (HR Muslim: 2.631). Saya pikir, jika orang tua berhasil mendidik anak wanita menjadi orang yang berpribadi baik, keluarga, desa, atau negara pasti makin baik.
Dalam sebuah riwayat tertulis “Seorang wanita miskin datang kepadaku dengan membawa dua anak perempuannya, lalu aku memberinya tiga buah kurma. Kemudian dia memberi untuk anaknya masing-masing satu buah kurma dan satu kurma hendak dia masukkan ke mulutnya untuk dimakan sendiri. Namun kedua anaknya meminta kurma tersebut. Maka si ibu pun membagi dua kurma yang semula hendak dia makan untuk diberikan kepada kedua anaknya. Peristiwa itu membuatku takjub sehingga aku ceritakan perbuatan wanita tadi kepada Rasulullah saw. Maka Nabi bersabda: Sesungguhnya Allah telah menetapkan baginya surga dan membebaskannya dari neraka”. (HR Muslim: 2.630).
Berbahagialah mereka yang mendapat anak yang saleh.  n

BAGIKAN


REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv