KALIANDA (Lampost.co)--Kehidupan  masyarakat yang mencari nafkah di Pelabuhan Bakauheni nyaris mati, setelah  PT ASDP cabang setempat menegakkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 29 tentang sterilisasi pelabuhan penyeberangan.

Seperti yang diakui paguyuban pedagang asongan, pengurus penyeberangan truk maupun bus. Mereka mengaku tidak bisa berjualan sembarangan, karena pengurus truk maupun bus tidak bisa keluar masuk sembarangan.
Meskipun mereka diberikan jalur khusus dan  kartu pas masuk dengan biaya Rp65 ribu - Rp 85ribu per bulan. Mereka tidak leluasa, karena jumlah kendaraan dibatasi dan mereka juga harus berjalan kaki menuju lokasi parkir kendaraan area dermaga.
“Untuk bertahan hidup kami harus berinovasi. Apakah memanfaatkan rest area atau bisnis kuliner saat beroperasinya pelabuhan premium atau ada solusi lain, agar kami tetap bertahan hidup,” kata ketua DPC Serikat Pekerja Transportasi Indonesia (SPTI) Pelabuhan Bakauheni, Ivan Rizal kepada Lampost.co, Jumat (16/3/2018).
Menurut dia, Permenhub nomor PM 29 tahun 2016 yang telah disosialisasikan sejak tahun lalu diimbangi dengan peresmian jalan tol, membuat masyarakat yang memenuhi kebutuhan hidup di pelabuhan semakin terjepit, bahkan sekarat.
“Meski diberikan jalu khusus bagi pengurus transportasi, kami tetap tak berkutik, karena kendaraan yang hendak menyeberang langsung naik gate kapal. Sementara kami harus jalan kaki menuju lokasi itu. Belum sampai tujuan, kapal sudah jalan,” ujar Ivan.
Selain pedagang dan pengurus penyeberangan, puluhan kios dan warung makan yang berderet di setiap areal parkir dermaga nyaris gulung tikar, kecuali pedagang yang menempati sekitar loket penumpang jalan kaki dan terminal pelabuhan Bakauheni.
Diketahui, Permenhub RI Nomor PM 29 tahun 2016 tentang sterilisasi pelabuhan penyeberangan pada Bab II Zonasi pelabuhan penyeberangan pasal 2 ayat 1 berbunyi setiap pelabuhan penyeberangan wajib dikelola dengan aman, nyaman tertib dan lancar melalui zonasi. Lalu pada pasal 3 ayat (2) sistem zonasi yang dimaksud adalah zonasi A untuk orang, zonasi B untuk kendaraan dan zonasi C untuk fasilitas vital.
Yang dimaksud zonasi A meliputi zona A1 untuk penempatan loket dan parkir kendaraan, dan hanya diperuntukkan bagi pengantar/ penjemput penumpang (dari pintu gerbang pelabuhan hingga loket), zona A2 untuk ruang tunggu dan hanya diperuntukkan calon penumpang, zona A3 untuk pemeriksaan loket penumpang dan hanya diperuntukkan bagi orang yang akan menyeberang. 
Sedangkan zona B untuk kendaraan dan area parkir kendaraan dan hanya diperuntukkan bagi kendaraan yang sudah punya tiket masuk kapal.
Kemudian zona C merupakan area pelabuhan untuk keamanan dan keselamatan fasilitas penting dilarang dimasuki orang, kecuali petugas. 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR