AWALNYA muncul anggapan bahwa media sosial gratis. Namun, dengan terbongkarnya skandal pencurian data Facebook oleh firma analisis data, Cambridge Analytica (CA), semakin membuka mata semua pengguna medsos.

Pengguna akun media sosial sebenarnya memercayakan data pribadinya kepada server penyedia layanan. Data pribadi inilah yang bisa dipakai dan dijual kepada pengiklan dengan harga yang sangat mahal. Jutaan bahkan miliar data pribadi ini merupakan sumber daya berharga.



Penyedia layanan media sosial bisa menggunakan data para penggunanya untuk kepentingan bisnis dan politik. Cambrige Analytica bekerja untuk kampanye pemenangan Donald Trump pada Pilpres 2016 lalu diduga memakai data pengguna Facebook untuk memenangkan calon yang diusung.

Setidaknya, ada 50 juta pengguna medsos Facebook yang dipakai untuk mengampanyekan Trump sehingga bisa mengalahkan pesaing beratnya, Hillary Clinton. Dengan modal data pribadi yang sangat berharga, CA mengirimkan tema-tema kampanye yang sangat mengena ke pemilih.

Data pribadi pengguna medsos ternyata menjadi senjata yang sangat ampuh dalam mengirim iklan kampanye sehingga lebih menyentuh. Hal ini dibuktikan dengan iklan kampanye Trump yang dilihat miliar kali oleh para pemilik akun Facebook.

Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, awalnya tidak pernah merespons skandal pencurian data ini. Setelah didesak banyak pihak, Zuckerberg akhirnya angkat bicara. Dalam sebuah pernyataan yang diunggah di akun Facebook resminya, Zuckerberg meminta maaf pada pengguna dan menjanjikan sistem yang lebih aman untuk melindungi privasi data.

"Kami memiliki tanggung jawab untuk melindungi data Anda. Dan, jika kami tidak bisa, kami tidak pantas untuk melayani Anda. Saya telah mencoba memahami dengan tepat apa yang terjadi dan memastikan bagaimana kejadian ini tidak akan terulang lagi," tulis Mark Zuckerberg sebagaimana dikutip Kompas.com dari NBCNews, Kamis (22/3/2018).

Bisnis media sosial adalah tentang kepercayaan. Saat ini para pesohor dunia telah mengampanyekan untuk menghapus akun FB dengan tagar #DeleteFacebook. Mereka yang menyuarakan untuk tidak memakai lagi layanan medsos Facebook adalah CEO SpaceX dan Tesla, Elon Musk, dan CEO WhatsApp, Brian Acton.

Hingga kini, Facebook memiliki pengguna aktif lebih dari 2,17 miliar. Indonesia menyumbang jumlah pengguna Facebook terbesar urutan keempat secara global. Hingga Januari 2018, jumlah pengguna Facebook dari Indonesia mencapai 130 juta akun setelah India, Amerika, dan Brasil.

Setelah kebocoran data ini ini, Komisi I DPR kembali mengingatkan pentingnya ditetapkan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) di Indonesia. DPRD berharap Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara segera memasukkan draf aturan tersebut.

 

loading...

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR